New Normal, Kopi Kehilangan Kedai; Kelas Peleha-Leha Kehilangan Identitas

1110 Views

Akhirnya Biologi, bukan artificial intelligence biang disrupsi peradaban kita

Sebelum virus corona baru merebak di Wuhan lalu menjadi pandemi, dunia sedang menyambut revolusi industri 4.0 dan dampaknya disruptif terhadap kehidupan normal.

Orang-orang bicara tentang lingkungan kerja dan model pengupahan yang berubah. Orang-orang mulai kehilangan pekerjaan, digantikan kecerdasan buatan. Yang bertahan terpaksa menerima mode pengupahan baru: kerja yang fleksibel, yang bisa berhenti sewaktu-waktu, yang part-time, yang tiada jaminan masa depan, sekadar bertahan hari demi hari.

Kita bicara tentang model komunikasi yang kian men-sosialkan sekaligus mengasingkan manusia: ketika yang bercakap-cakap adalah gawai dengan gawai; ketika mendapat kawan dari belahan dunia antah berantah sedemikian mudahnya dan sebaliknya berkomunikasi dengan orang serumah jadi kemewahan.

Pemerintahan dunia mulai mendiskusikan lagi bentuk-bentuk jaring pengaman sosial yang cocok untuk menyambut kondisi itu, salah satunya dengan mempertimbangkan Universal Basic Income–Spanyol akhirnya menerapkan ini sejak bulan Mei. Bukan karena dampak revolusi industri 4.0 tetapi dampak pandemi Covid-19. 

Lalu … pandemi. Hal-hal yang seharusnya diubah oleh kehadiran artificial intelligence, robot-robot yang menjadi kian manusiawi itu, justru dipercepat pewujudannya oleh virus, mahkluk setengah-hidup-setengah-mati yang tiada mampu kita kontrol.

“Kami mempercepat rencana transformasi toko untuk mengatasi situasi saat ini, sambil tetap memberikan pengalaman yang aman, akrab, dan nyaman bagi pelanggan kami,” kata CEO Starbucks Kevin Johnson. [5]

Rupanya starbucks memang sudah punya rencana merombak konsep kedainya. Aslinya rencana itu akan dijalankan tiga hingga lima tahun ke depan. Tetapi pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk bertindak sekarang.

Siapa yang bertindak cepat menyesuaikan bisnisnya dengan kondisi saat ini –yang sudah pasti menjadi new normal di masa mendatang– akan lebih cepat pula kembali terjun ke pasar dan bisa jadi pemimpin bisnis.

Karena itu starbucks menutup 400 kedainya selama 18 bulan ke depan untuk diubah konsepnya. Akan ada lebih besar dan lebih banyak ruang khusus layanan drive-thru dan konter terpisah yang melayani pemesan via aplikasi daring.

Perubahan itu bertujuan menciptakan ruang kerja dan pelayanan kepada pelanggan yang lebih aman dalam kondisi normal baru.

Itu berarti, meski masih akan ada pengunjung yang menikmati kopi di starbucks, akan lebih besar proporsi konsumen yang membeli untuk menikmatinya di tempat lain –mungkin dalam kesendirian menatap senja saat gerimis membasahi jendela.

Itu berarti pula, lebih banyak orang ‘terpaksa’ — demi selamat dari Covid-19 di masa new normal– menikmati kopi tanpa turut menikmati kedai.

Kalau ini jadi kecenderungan umum, banyak kedai akan menyepi, berubah menjadi cuma penjaja kopi. Kurang lebih seperti booth kopi instan di pelataran mall.

Perceraian coffee-cafe sama artinya dengan memudarnya salah satu simbol –tentu saja turut hilang pula maknanya, petandanya– gaya hidup dan status sosial kelas menengah perkotaan.

Maka grup sosial yang seolah-olah leisure ini, yang rela berutang dan kerja hingga larut hanya demi satu-dua jam bisa eksis di media sosial dalam foto sedang ngopi di cafe, harus mencari simbol baru, penanda baru yang merepresentasikan citranya: citra grup sosial yang merangkak menggapi mimpi naik kelas; mimpi yang mungkin tidak akan pernah digapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *