New Normal, Kopi Kehilangan Kedai; Kelas Peleha-Leha Kehilangan Identitas

1108 Views

Conspicuous consumption dengan pengorbanan pahit

Thorstein Veblen menulis buku pada 1899, The Theory of the Leisure Class. Itu buku tentang perilaku kalangan elit yang menghabiskan waktunya dengan berleha-leha dan mengonsumsi barang-barang mahal demi kepentingan pamer.

Veblen menyebut kultur kalangan elit itu sebagai conspicuous leisure dan conspicuous consumption.[2]

Hemat saya banyak yang salah membaca Veblen, dan menyimpulkan conspicuous consumption sebagai tema utama dalam The Theory of the Leisure Class.

Tidak. pamer kepemilikan barang-barang mahal itu cuma sekunder, hanya fungsi turunan untuk membuktikan bahwa sekalipun tidak berpeluh, sekalipun lebih banyak berleha-leha, kalangan elit mampu hidup melampaui layak.

Maka berleha-leha itulah yang sesungguhnya hendak dipamerkan, sebab itulah yang mendasar dan mula-mula membagi masyarakat atas para ninggrat dan majikan dengan jelata dan kuli.

Dengan memamerkan itu, seseorang menegaskan posisinya sebagai bagian dari elit pamuncak. Juga, kultur pamer waktu luang dan barang mewah menjadi kode etik kelas, serupa dress code agar diperkenankan masuk ruang perjamuan para bangsawan.

“This direct, subjective value of leisure and of other evidences of wealth is no doubt in great part secondary and derivative. It is in part a reflex of the utility of leisure as a means of gaining the respect of others, and in part it is the result of a mental substitution. The performance of labour has been accepted as a conventional evidence of inferior force; therefore it comes itself, by a mental short-cut, to be regarded as intrinsically base”.

— Thorstein Veblen — The Theory of The Leisure Class. Hal. 29-30

Veblen bukan satu-satunya yang membahas karakter elit sebagai leisure class. Lima belas tahun setelah buku Veblen, terbit buku berjudul nyaris serupa, The Economic Theory of the Leisure Class.

Penulis buku kedua ini adalah Nikolai Bukharin, seorang teoritikus ulung sekaligus aktivis revolusioner terkemuka Bolshevik Rusia.[3]

Jika Veblen membahas leisure class pada setiap tahan perkembangan tatanan sosial — semenjak fasa puncak masyarakat barbar, yang menurutnya di Eropa dan Jepang adalah feodalisme — Bukharin melekatkan istilah leisure class kepada borjuasi penikmat rente.

Bukharin mengenal kelahiran borjuasi rente dari brosur Alexander Parvus, Der Staat, die Industrie und der Sozialismus.[4]

“The bourgeoisie is being transformed into rentiers who have about the same relation to the great financial institutions as they have to the State whose obligations they acquire; in both cases, they are paid their interest and have nothing else to worry about.”

Alexander Parvus, dikutip Bukharin — The Economic Theory of the Leisure Class .Hal 25,

Bukharin menyebut borjuasi rente sebagai prasit yang hidup seperti bangswan dan aristokrat masa feodal –jadi sebenarnya tidak beda juga dengan Veblen yang membahas leisure class sejak kelas elit dalam feodalisme||.

Borjuasi rente itu, leisure class itu parasit sebab mereka bisa hidup berfoya-foya tanpa harus terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif. Yang Bukharin sebut ekonomi produksi adalah kegiatan produksi dan perdagangan. Jadi seperti benalu yang bisa menikmati sari pati hara tanpa harus capai-capai menjulurkan akarnya menembus pori-pori tanah.

“Consumption is the basis of the entire life of the rentiers and the ‘psychology of pure consumption’ imparts to this life its specific style. The consuming rentier is concerned only with riding mounts, with expensive rugs, fragrant cigars, the wine of Tokay. A rentier, if he speaks of work at all means the “work” of picking flowers or calling for a ticket at the box office of the opera! Production, the work necessary for the creation of material commodities, lies beyond his horizon and is therefore an accident in his life.” —Bukharin, hal 26.

Karena menulis karakter leisure class dari sudut pandang ekonomi politik –beda dengan Veblen yang lebih fokus pada karakter atau ekspresi budayanya — Bukharin lebih jernih menjelaskan asal muasal kultur konsumptif leisure class.

Karena tidak lagi harus bekerja, hidup grup sosial ini hanya seputar urusan konsumsi kemewahan: “riding mounts, with expensive rugs, fragrant cigars, the wine of Tokay.” Jika mereka bilang bekerja, yang merka maskud adalah menikmati waktu luangnya dengan “picking flowers or calling for a ticket at the box office of the opera.”

Jadi jika Veblen melihat kultur berleha-leha dan berfoya-foya elit pamuncak sebagai jalan menegaskan posisi sosial mereka; Bukharin justru melihat ekspresi kultural itu dampak dari terlepasnya kelas borjuasi penikmat rente dari kegiatan ekonomi produktif.

Saya lebih setuju Bukharin. Kelas sosial, oleh posisi khasnya dalam relasi produksi membentuk kultur yang juga unik. Kultur berfoya-foya dan berleha-leha borjuis rente (the consuming rentiers) adalah dampak keterlepasan mereka dari kewajiban kerja.


Halaman selanjutnya -> Bagaimana keutamaan the leisure class kini jadi keutamaan kelas pekerja pula?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *