Sajian Bahan Ajar Daring, Pilih Teleconference via Zoom atau Rekaman Youtube?

239 Views

Saya mengapresiasi niat baik dan upaya pihak sekolah anak saya untuk melengkapi pemberian materi belajar dan tugas, dari sebelumnya cuma melalui google class room, kini ditambah pula tatap muka daring real time via Zoom. Tetapi kalau dipikir-pikir, sebaiknya penyajian audio-visual direkam saja dulu. Soal begini …

Ketika Minggu, 29 Maret pihak sekolah mengumumkan via whatsapp bakal ada tatap muka daring dengan guru esok pagi, Senin 30 Maret anak saya sudah bangun pukul 05.00. Rupanya ia sudah rindu sekolah sehingga tumben-tumbennya bangun sepagi itu. Mungkin ia ingin melihat ibu guru dan teman-teman sekelas meski cuma lewat layar laptop.

Tetapi tunggu punya tunggu, pagi hinga sore hari, teleconference via zoom belum juga dimulai. Saat kami tanyakan lewat whatsapp, guru menjawab pihak sekolah sedang rapat lagi tentang metode pembelajaran daring.

Kami kaget saat selesai makan malam membaca pemberitahuan yang rupanya tiba saat sedang makan malam soal penyelenggaraan tatap muka daring di zoom. Rupanya saat kami makan, tatap muka berlangsung. Jadinya anak kami kehilangan kesempatan itu.

Saya tidak tahu mengapa bisa begitu. Apakah pihak sekolah berharap anak dan orang tua stand by 7 to 21 di depan laptop? Bukankah sebaiknya tatap muka tetap daring tetap dilangsungkan pada jam berlajar normal (8 to 15 kalau di sekolah anak saya)?

Saya menduga ada problem teknis yang baru terpecahkan saat malam sehingga baru saat itu teleconference diadakan.

Nah, mumpung penyampaian materi real time daring via zoom belum terlanjur melembaga, saya ingin sedikit bersaran, siapa tahu barang ini juga sedang coba diterapkan di sekolah-sekolah lain.

Hemat saya, daripada tatap muka tayangan langsung daring yang boros data itu, lebih baik pihak sekolah menyiapkan bahan ajar audiovisual yang direkam terlebih dahulu dan ditayangkan di Youtube. Selain mungkin lebih hemat paket data, murid juga bisa mengakses berulang-ulang dan sembarang waktu. Tidak ada problem kehilangan kesempatan.

Apalagi kalau pakai zoom gratisan, per sekian puluh menit layar akan mati (menghitam). Kalau pakai yang berbayar, ortu tambah keluar duit donk. Padahal ini masa ketatkan ikat pinggang.

Jika guru masih malu tampil di depan khalayak via youtube, kan bisa videonya diatur agar hanya bisa diakses oleh murid-murid.

Menggunakan rekaman memberi kesempatan sajian media pandang-dengar diedit sedemikian rupa, ditambahkan animasi ilustratif sehingga materi tersaji secara lebih menarik.

Selama ini kelemahan materi ajar di Indonesia, baik buku bacaan, pun paparan audiovisual dibuat sangat lempeng, miskin ilustrasi, dan karenanya membosankan. Jadinya anak-anak pengguna bahasa Inggris lebih senang mengakses video pembelajaran luar negeri. Itu sebabnya anak saya lebih paham sejarah negara-negara lain di bandingkan sejarah sendiri.

Alangkah baiknya jika masa-masa belajar dari rumah ini digunakan pihak sekolah untuk menghasilkan bahan ajar yang menarik.

Dua orang guru yang dalam kelas konvensional terpisah ruang kelas, mengasuh rombongan belajar berbeda, kini bisa berkolaborasi membuat sajian menarik, misalnya dengan melakonkan percakapan drama. Bahkan bisa menggunakan bantuan boneka atau instrumen lain agar sajian lebih menggembirakan untuk ditonton.

Soal aksi timbal-balik,  rekaman pandang-dengar pun bisa memancing respon siswa bertanya, menjawab pertanyaan, atau memberi komentar. Kan ada kolom komentar.

Saya yakin, pelajaran yang disajikan dengan tayangan menghibur akan lebih memikat memori siswa dibandingkan aksi monoton guru bicara di depan layar.***

__________

Published pula sebagai Tuan Martinuz di Kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *