Penyelundupan Senjata dan ‘Shodancho’ dalam “Cantik Itu Luka” Eka Kurniawan

126 Views

Saya baru saja hendak tidur ketika tanpa sengaja melirik surat kabar dan menemukan warta menarik yang kemarin terlewatkan. Koran Jakarta (27/01) memberitakan pasukan perdamaian Indonesia yang bergabung di dalam Misi Perdamaian Gabungan Uni Afrika (UNAMID) bentukan PBB untuk konflik di Sudan ditahan karena menyelundupkan senjata saat hendak kembali ke tanah air.

Agar tidak menyebarkan kabar sesat karena salah sejak sumber berita, saya mencari berita pembandingnya. Beruntung saya tidak buru-buru memublikasi artikel ini karena ternyata yang ditahan bukan pasukan TNI di dalam UNAMID tetapi pasukan Polri di dalam Satgas Formed Police Unit (FPU) VIII. Pasukan TNI baru akan kembali ke tanah air pada Maret mendatang. Adalah pasukan Polri yang seharusnya kembali sekarang namun kini ditahan di Sudan.

Belum tentu juga pasukan Polri sungguh-sungguh terlibat di dalam penyelundupan itu. Polri sendiri telah memberikan klarifikasi tentang ketidakterlibatan mereka dan menyampaikan sejumlah kejanggalan atas kasus tersebut. Kita berharap hasil investigasi dari tim gabungan bentukan pemerintah RI dan Sudan dapat membersihkan nama baik Polri.

Terlepas dari apapun hasil investigasi nanti, kasus ini mengingatkan saya pada buku-buku sejarah dan novel-novel tentang angkatan perang kita, tentara dan polisi (dahulu polisi satu badan dengan tentara, ABRI).

Di dalam perang kemerdekaan, pun masa-masa setelah kemerdekaan, kita mendengar banyak kisah bagaimana para serdadu yang berjuang untuk kemerdekaan itu menjadi pisau bermata dua: berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan tetapi juga sering tergelincir di dalam aksi-aksi merampok rakyat, berdagang barang selundupan dan rampasan untuk kekayaan pribadi, bahkan memperkosa para perempuan. Kisah-kisah miris sering pula kita dengar di daerah-daerah konflik yang ditangani dengan pengerahan angkatan bersenjata.

Banyak yang mengatakan, perilaku buruk ini karena perang. Perang membuat lumba-lumba menjadi hiu. Tidak. Bukan karena perang. Saya lebih percaya jika ini risiko dari status special force yang memisahkan angkatan perang dari rakyat, yang menempatkan mereka sebagai orang-orang istimewa yang boleh memegang senjata secara legal.

Tentu saja, meski kondisi umum demikian, ini bukan takdir tentara dan polisi. Ada banyak yang tulus berjuang demi kemerdekaan dan keamanan masyarakat, mampu melawan kecenderungan purba special force. Tetapi, seperti kata para tetua, “nila setitik merusak susu sebelanga” apalagi jika nila sebelanga dan susu hanya dua belanga.

Di dalam novel-novel karya empu seperti Y. B. Mangunwijaya dan Pramoedya Ananta Toer banyak kita temukan sindirian kepada pejuang kemerdekaan yang juga merampok dan memperkosa rakyat, serta berbisnis penyelundupan senjata dan barang-barang lain ke dalam dan keluar negeri. Y.B. Mangunwijaya sendiri dulunya seorang serdadu yang mengundurkan diri ketika melihat sayapa tidak terpuji sepak terjang para komandannya terhadap rakyat.

Setelah kematian Mangun dan Pram, Indonesia kembali dihadiahi penulis muda berbakat yang potensial menjadi pelanjut angkatan para empu itu. Adalah Eka Kurniawan orangnya, yang salah satu novelnya Cantik Itu Luka. Tidak terhindarkan, membaca berita dugaan penyelundupan senjata tadi mengingatkan saya pada novel ini.

Di dalam Cantik Itu Luka ada seorang tokoh yang hanya dikenal sebagai Sang Shodancho. Sama sekali tidak pernah disebut nama aslinya. Sang Shodancho baru muncul pada bab VI, ketika rekannya Shodancho Sadrah memanggilnya dari hutan, minta pertolongannya untuk memberantas hama babi di Halimunda.

Shodancho memang sudah lama tinggal di hutan bersama pasukannya, yaitu sejak kalah dalam perang terbuka melawan Jepang oleh pemberontakan yang disulutnya. Sebelumnya, ketika Indonesia merdeka, Sang Shodancho sempat kembali ke Halimunda. Ia menolak jabatan panglima TKR dan memilih kembali ke hutan ketika agresi militer Belanda.

Setelah Belanda benar-benar angkat kaki dari Indonesia (setelah KMB), Sang Shodanco berbisnis dengan Bendo dan pedagang beretnis Tionghoa yang diperkenalkan Bendo. Selama masa perang kemerdekaan, Shodancho membantu melindungi bisnis penyelundupan jati si Bendo dan sebagai balasan mendapatkan bantuan logistik dari Bendo. Setelah merdeka, Sang Shodanco, Bendo, dan pedagang beretnis Tionghoa menjadi mitra bisnis dalam penyelundupkan berbagai macam barang.

Sewaktu kembali ke Halimunda, Sang Shodanco jatuh cinta pada Alamanda, putri sulung pelacur ternama Dewi Ayu. Kemudian dikisahkan bagaimana Sang Shodanco memperkosa Dewi Ayu, memperkosa Alamanda, dan berusaha membunuh Kamerad Kliwon, kekasih sejati Alamanda. Selanjutnya, dan kisah lengkapnya, Anda baca saja sendiri.

Saya berani bertaruh, Eka Kurniawan menciptakan sosok Sang Shodancho di dalam Cantik Itu Luka dari perpaduan Supriyadi dan Soeharto. Soal pangkat Shodancho, berontak melawan Jepang, lari ke hutan, dan diangkat sebagai Panglima TKR berasal dari Supriyadi; sementara soal penyelundupan dan kerjasama dengan cukong, pembantaian PKI dan pembunuhan preman (Petrus, penembakan misterius) berasal dari Soeharto.

Ketika menciptakan sosok Sang Shodancho, Eka Kurniawan tentulah sudah membaca  buku Harold Crouch, The Army and Politics In Indonesia (1978) dan buku Robert E Elson, Suharto, A Political Biography (2001). Kedua buku ini menyinggung bisnis ilegal Soeharto, bekas presiden Indonesia, ketika masih serdadu aktif di Kodam Diponigoro. Saat itu Soeharto bekerja sama dengan kroninya Liem Soe Liong (kelak menjadi salah satu konglomerat paling jaya) dalam menyelundupkan berbagai macam barang.

Memang hingga masa kini pun kita banyak menemukan berita di media massa tentang oknum TNI dan Polri menjadi backing perjudian dan porstitusi, menjadi penadah curanmor, pungutan liar, berjualan senjata di daerah konflik, berdagang narkoba, dan lain-lain. Meski begitu, tidak tepat jika tanpa asas praduga tak bersalah kita menyimpulkan bahwa pasukan Polri di dalam Satgas Formed Police Unit (FPU) VIII sungguh-sungguh terlibat di dalam upaya penyelundupan senjata keluar dari Sudan. Semoga tidak.***

___

Published pula di Kompasiana.com/tilariapadika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *