Pengobatan Covid-19 dengan “Metode Maze Runner”

191 Views

Pernah tonton Maze Runner? Itu triology film distopia fiksi ilmiah yang diadaptasi dari novel laris karya James Dashner (terbit 2009). Versi novelnya adalah tetralogy.

Maze Runner berkisah tentang aksi pelarian dan perlawanan para remaja yang imun terhadap Flare, penyakit yang disebabkan virus buatan manusia, VC321xb47.

Virus VC321xb47 menyerang otak manusia, mengubah para penderita Flare menjadi mahkluk haus darah yang disebut Cranks.

Pengobatan Covid-19 dengan ‘Metode Maze Runner’

Kisahnya bermula ketika di masa depan badai matahari (sun flare) melanda bumi, menyebabkan kerusakan alam dan kematian massal.

Sumber daya alam yang tersedia (air, pangan, dll) hanya mampu menopang kebutuhan 70 persen populasi dunia.

Pemerintahan negara-negara yang masih berdiri kemudian membentuk aliansi Post-Flares Coalition (PFC). Aliansi ini bertujuan menemukan dan mengoordinasikan langkah strategis untuk mengatasi kelangkaan sumber daya.

Salah satu strategi yang kemudian diambil adalah menyebarluaskan virus buatan,  VC321xb47. Virus ini sejatinya didesain untuk mempengaruhi otak manusia agar menghasilkan tindakan rasional menghadapi kelangkaan sumber daya.

Tak dinyana, virus bermutasi, menghasilkan penyakit yang menyerang otak manusia, mengubah orang-orang yang terinfeksi menjadi makhluk agresif dan haus darah. Orang-orang ini disebut Cranks.

Menghadapi serbuan Cranks, PFC menempuh dua strategi utama. Yang pertama adalah melindungi populasi kota—tinggal satu kota yang bertahan–dengan lockdown, membangun dinding tinggi mengelilingi kota, menutup akses keluar-masuk kota.

Banyak orang biasa, rakyat miskin yang tidak bisa masuk ke dalam kota dan harus berjuang menyelamatkan diri dari Cranks pun mempertahankan diri dari kerasnya alam dan keterbatasan sumber daya.

Sementara untuk menyembuhkan flare, PFC mendirikan Wicked—dalam versi film disebut WKCD, World Catastrophe Killzone Department. Wicked melakukan riset terhadap kerja otak para remaja yang imun terhadap penyakit tersebut.

Wicked mengumpulkan para remaja imun sebagai objek penelitian dalam 3 tahap percobaan. Percobaan tersebut berupa simulasi nyata yang menutut remaja-remaja imun mempertahankan diri dari ancaman.

Kerja otak mereka kemudian dipelajari. Wicked berharap dapat menemukan dan mengekstrak serum antibodi dari para survivors.

Tahap pertama percobaan dilakukan dalam fasilitas bawah tanah yang disebut Maze, terletak di bawah bangunan markas besar Wicked—dalam film, Maze terletak di gurun pasir.

Sementara tahap kedua remaja-remaja imun diujicobakan untuk survive di The Scorch, wilayah equator bumi yang paling terdampak sun flare, yang selain kondisi alamnya sangat membahayakan, juga dihuni populasi Cranks.

Novel dan film The Maze Runners pada dasarnya bercerita tentang upaya penyelamatan diri Thomas (tokoh utamanya) dan kawan-kawannya dari percobaan Wicked yang mengancam kehidupan mereka.

Sejatinya Thomas adalah salah satu remaja jenius yang membantu Wicked dalam desain awal riset. Tetapi Wicked kemudian menghilangkan memori Thomas dan memasukkannya ke dalam Maze.

Kelak Wicked menangkap (kembali) Minho, salah seorang sahabat Thomas. Darah Minho mengandung serum antibodi yang bisa melawan infeksi Flare tetapi hanya bersifat sementara. Wicked mencoba menyedot habis darah Minho sebagai bahan baku serum antibodi.

Pada akhirnya adalah Theresa atau Deedee, salah satu sahabat Thomas yang pada awalnya bersama-sama membantu Wicked merancang Maze, menemukan bahwa darah Thomas mengandung serum antibodi yang bukan cuma menghambat infeksi, tetapi juga menghancurkan virus Flare.

Kisah selanjutnya bisa Anda tonton atau baca sendiri.

Pengobatan Corona dengan Darah Pasien yang Telah Sembuh

Pada 25 Maret, situs sains iflscience.com memberitakan pengumuman Gubernur New York Andrew Cuomo. Pemimpin negara bagian AS yang paling parah menderita serangan virus corona ini mengatakan, pemerintah akan mencoba pengobatan dengan metode convalescent plasma.

Convalescent plasma adalah teknik pengobatan dengan menyuntikkan plasma darah pasien yang telah sembuh ke pasien yang masih dalam perawatan. Dasar pengobatan ini adalah dalam darah pasien yang telah sembuh mengambang antibodi yang sukses melawan virus  SARS-CoV-2.

Convalescent plasma belum menjadi teknik pengobatan sahih Covid-19. Teknik ini masih merupakan trial yang terpaksa ditempuh karena Amerika Serikat dalam kondisi kritis.

Hanya dalam beberapa hari, jumlah orang tertular virus corona di negara itu telah melampaui jumlah di Tiongkok (Baca selengkapnya tentang kondisi Amerika Serikat DI SINI).

Food and Drug Administration (FDA), otoritas Amerika Serikat yang berhak menerbitkan izin obat dan teknik pengobatan, menyatakan membolehkan praktik convalescent plasma hanya kepada pasien Covid-19 yang sangat kritis.

Convalescent plasma bukan baru pertama diterapkan di Amerika Serikat. Sebelumnya teknik pengobatan ini sudah pula diterapkan secara terbatas di China dalam menghadapi Covid-19 pun epidemi flu sejenis yang juga menyerang sistem pernapasan. Bahkan banyak negara dunia menggunakan teknik ini untuk menyebutkan flu burung, SARS, dan ebola.

Sejumlah ahli di Tiongkok menulis laporan penerapan teknik ini dan dipublikasikan thelancet.com.

Dijelaskan, teknik convalescent plasma atau immunoglobulins menjadi upaya terakhir, the last resort, untuk meningkatkan tingkat survival pasien SARS.

Pada 2014, WHO merekomendasikan penggunaan teknik ini untuk menghadapi merebaknya virus Ebola. Pada 2015, dibuat protokol penggunaan metode convalescent plasma dalam penyembuhan pasien MERS di Timur Tengah.

Lebih jauh lagi,  convalescent plasma digunakan Tiongkok dalam penyembuhan pasien flu burung (luenza A H1N1) di tahun 2009.

Meski tidak 100 persen berhasil, teknik ini membantu menekan tingkat kematian pasien.

Hemat saya, pada dasarnya teknik ini memanfaatkan memori yang dimiliki sel-sel imun dalam plasma darah pasien yang sembuh. Ketika diinjeksikan ke dalam darah pasien baru, sel-sel imun tersebut segera mengenali virus dan bereaksi menghadapinya.

Artinya sel-sel imun dari orang-orang yang telah sembuh berfungsi sementara sebagai pasukan antibodi pinjaman, ketika sel-sel darah orang yang baru terjangkit masih terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang mereka hadapi.

Satu pelajaran penting dari sistem pengobatan ini adalah betapa pentingnya memori, betapa pentingnya belajar dari masa lalu, baik dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, pun dari kisah-kisah suksesnya.

Nah, jika di tingkatan sel saja kita bersandar pada memori, belajar dari masa lalu, mengapa tidak demikian juga dalam kehidupan sosial yang kompleks sebagai bangsa?

Semoga, kita banyak belajar dari pandemi corona virus. Salah satunya belajar tentang pentingnya investasi anggaran untuk menghadapi kondisi ini, semisal dana abadi yang bisa dimobilisasi ketika kita harus masuk masa ‘ekonomi perang’, yaitu ketika barang kebutuhan harus didistribusikan kepada seluruh rakyat saat lockdown terpaksa diterapkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *