Arok Dedes Pramoedya: Perang Proksi dan Problem Kebhinnekaan

344 Views

Kudeta merangkak dan perang proksi inilah yang diyakini terjadi pada 1965.

Di tengah ketegangan banyak segi, antara kekuatan-kekuatan sipil (PKI, PNI, Masyumi, NU), inter faksi TNI (para perwira menengah kere dan para jenderal korup, bekas KNIL vs PETA), antara sipil-militer, serta antara Amerika-Inggris-Soviet-China, masing-masing pihak menyusun strategi, menggerakkan bidak-bidak.

Ketika para perwira pro-Soekarno, Untung cs mengambil langkah oleh provokasi isu Dewan Jendral, Soeharto segera memanfaatkan langkah gegabah mereka untuk membasmi dua lawan sekaligus, Soekarno dan kelompok kiri (PKI, PNI Soekarnois, dan ormas-ormas rakyat).

Seperti Tunggul Ametung, Soekarno kehilangan jabatannya. Seperti Arok, Soeharto berkuasa sekaligus menjadi pahlawan. Seperti para bramana Siwa berdiri di belakang Arok, begitu pula Amerika Serikat dan Inggris berdiri di belakang Soeharto. Seperti Nasution disingkirkan Soeharto, demikian pula kekuasaan Arok menghapus peluang Ken Dedes berkuasa.

Kudeta merangkak dan proxy war ini juga yang dibaca sebagian pihak terjadi pada bulan-bulan akhir tahun kemarin. Mungkin sekedar ketakutan orang-orang paranoid. Mungkin juga kejelian mata nalar mereka yang peka kondisi. Yang pasti, ada dugaan  bahwa para pihak yang berkepentingan akan kekuasaan ‘berperang tanpa membuka gelar’, memanfaatkan keresahan rakyat atas penggusuran dan kasus ‘penistaan’ agama oleh Ahok pada momentuk Pemilukada DKI, mencoba merangkak menititi tangga menuju istana sebagai sasaran akhir.

Tetapi Arok Dedes bukan sekedar kisah tentang kudeta merangkak dan perang proksi. Ada hal lain yang juga pas jadi cermin untuk masa kini kita. Soal keBHINNEKAan, keberagaman.

Sebagian brahmana, termasuk Ken Dedes berharap kekuasaan Arok akan menegakkan lagi dominasi Hindu Saiwa. Sayang, mereka harus kecewa.

Di dalam pidato pengukuhannya, Arok berkata:

“…Baik kaum Wysnu, Syiwa, Buddha, Kalacakra dan Tantrayana, jangan bertengkar karena berlainan mengagungkan para dewa… Yang jadi ukuran baik tidaknya seseorang bukan bagaimana menyembah para dewa, tapi dharma pada sesamanya.”

Ya, begitulah. Happy birthday, Pram. Bahagia di ujung sana, di dimensi tanpa kudeta, tanpa perang proksi, tanpa pertentangan agama.  Jika benar kabar para pandita itu tentunya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *