Arok Dedes Pramoedya: Perang Proksi dan Problem Kebhinnekaan

345 Views

Karya sastra sering dengan lihai memanggil kisah masa lalu, menghadirkannya sebagai cermin bagi peristiwa-peristiwa hari ini. Demikianlah buku-buku fiksi karya penulis besar Indonesia, terutama novel ber-setting sejarah seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer berperan.

Kemarin, 6 Februari adalah hari lahir Pramoedya Ananta Toer, begawan sastra Indonesia. Andai masih hidup, 92 tahun usianya kini. Saya memperingatinya dengan membaca kembali salah satu novelnya.

Sepulang kerja, saya memilih acak salah satu novel Pramoedya Ananta Toer dari rak buku dan tenggelam di dalamnya sejak sore hingga dini hari.

Adalah Arok Dedes, novel pertama dari tetralogi yang hilang, tetralogi Pulau Buru yang lain.

Tidak seperti tetralogi Bumi Manusia, tetralogi Pulau Buru yang lain ini adalah rangkaian yang patah sebab novel kedua, Mata Pusaran hilang di tangan Orde Baru. Seharusnya tetralogi ini terdiri dari Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan ditutup dengan naskah lakon Mangir.

Novel Arok Dedes menceritakan peristiwa politik, sebuah kudeta merangkak di Tumapel, wilayah taklukan Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Raja Sri Kretajaya.

Dengan tuturan menarik, PAT mengubah peristiwa yang diceritakan di dalam buku pelajaran sejarah SD-SMP sebagai peristiwa mistis ‘kutukan Mpu Gandring’ menjadi peristiwa politik ‘kudeta merangkak,’ pengambilalihan kekuasaan a la Jawa yang diyakini terjadi berulang sepanjang sejarah Nusantara, bahkan hingga zaman Indonesia modern.

Kita keluar sedikit dari novel ini untuk membantu melihat latar sejarahnya dari referensi lain.

Sri Kretajaya adalah Raja Mataram-Kediri dari wangsa Isana setelah penyatuan kembali Jenggala dan Kediri. Wangsa Isana itu sendiri dimulai oleh Mpu Sindok, yang memindahkan Ibu Kota Mataram Kuno (Medang) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Konon Mpu Sindok adalah cucu Mpu Daksa yang berkuasa setelah Diah Balitung, pendiri Candi Prambanan.

Diah Balitung adalah wangsa Sanjaya. Kekuasaan wangsa Sanjaya sempat terinterupsi oleh wangsa Sailendra yang menganut Budha Mahayana sebelum kemudian Rakai Pikatan mengusir  Balaputra Dewa yang lari ke Sriwijaya.

Awalnya wangsa Isana adalah Saiwa (Hindu penganut Siwa), namun sejak masa kekuasaan Airlangga, putra dari Mahendradatta dengan Raja Bali Udayana Warmadewa, raja-raja Mataram (Kerajaan Kahuripan di masa Airlangga, dan Kediri setelah Panjalu dan Kediri kembali disatukan oleh Sri Jayabaya) beralih menjadi penganut Waisnawa (Hindu pemuja Wisnu).

Dalam novel Arok Dedes, Pramoedya Ananta Toer menyinggung tiga hal yang terjadi di zaman Airlangga, selain soal pembangunan bendungan yang telah dikenal itu.

Pertama, Airlangga merombak sistem kasta atau wangsa di Mataram dari sebelumnya berbasis genetik menjadi berbasis dharma.  Dengan begitu, seorang berdarah sudra dapat naik kelas menjadi ksatria atau bahkan brahmana. Sistem kasta juga disederhanakan menjadi triwangsa, dengan menghapus kasta waisyia sehingga tersisa brahmana, ksatria, dan sudra.

Kedua Airlangga menghapuskan perbudakan dan dengan demikian tiada lagi wangsa paria.  Ketiga, Airlangga diangkat dan mengangkat diri sebagai awatara Wisnu. Kitab Arjuna Wiwaha yang ditulis Mpu Kanwa pada 1035 sejatinya merupakan modifikasi epik Mahabrata dengan menjadikan Arjuna sebagai metafor Airlangga.

Pada masa Sri Kertajaya, empat generasi setelah Airlangga, Waisnawa telah menjadi agama resmi di Kediri.

Hal ini menimbulkan keresahan dan kebencian di kalangan para brahmana Saiwa. Ketegangan segitiga terjadi, antara para brahmana Saiwa, para raja dan pendeta Waisnawa, dan para biksu Budha Mahayana (termasuk Tantrayana). Selama 200 tahun lamanya para brahmana Saiwa menghabiskan waktu dengan merutuki kekuasaan raja-raja Waisnawa.

Kekuasaan bekas bandit bergelar Tunggul Ametung sebagai Akuwu Tumapel memperluas pertentangan. Demi mengumpulkan upeti untuk disetorkan kepada Sri Kretajaya di Kediri, Tunggul Ametung semena-mena membebankan pajak tinggi kepada rakyat Tumapel, bahkan memberlakukan perbudakan kerja paksa di tambang emas rahasianya, juga perbudakan terhadap perempuan sebagai selir-selirnya.

Tampil sebagai pahlawan, Temu, seorang pemuda berdarah sudra yang piatu sejak bayi dan diasuh sejumlah orang tua, mulai dari seorang petani-peternak, penjudi, biksu Tantri dan berakhir pada Dang Hyang Lohgawe, ketua perkumpulan brahmana Waisnawa. Dang Hyang Lohgawe inilah yang menggelari Temu sebagai Arok, dan kelak Ken Arok.

Sejak kecil, Temu telah memulai gerilya melawan Tunggul Ametung, merampok kereta-kereta berisi upeti dan menimbun harta hasil rampasan itu. Harta inilah yang kelak menggenapi ‘empat kaki nandi’ (teman, kesetiaan, harta, dan senjata) sebagai syarat kekuatan pemberontakan.

Maka ketika Dedes anak Mpu Parwa diculik Tunggul Ametung, sidang rahasia para bramana Saiwa terkemuka memberi restu pada Arok untuk memimpin menggerakkan empat kaki nandi, memberontak terhadap kekuasaan Tunggul Ametung di Tumapel dan selanjutnya terhadap raja-raja Wainawa di Kediri.

Di Tumapel berlangsung pertarungan banyak segi. Belakangka, pendeta resmi Tumapel sekaligus orang tempatan Kediri mencoba memanfaatkan Kebo Ijo, seorang tantama berdarah ksatria untuk menggulingkan Tunggul Ametung.

Di sisi lain, Kebo Ijo bersama sejumlah tantama yang benci pada status istimewa para pangeran anak selir (menjadi perwira kepala pasukan meski tak cakap perang) diorganisasikan secara rahasia oleh pengrajin senjata, Mpu Gandring untuk memberontak. Ketika Arok ‘menyusup’ sebagai berpura-pura membantu Tunggul Ametung membasmi kaum pemberontak (yang adalalah pasukan Arok sendiri), pertempuran senyap itu menjadi semakin bersegi banyak.

Dang Lohgawe-Arok, Belakangka, dan Mpu Gandring terlibat di dalam perang memanfaatkan kekuatan orang lain, Kebo Ijo yang bernapsu pada kekuasaan. Inilah yang kini disebut sebagai proxy war. 

Tetapi Lohgawe dan Arok lebih lihai, mereka membiarkan Kebo Ijo melakukan kudeta untuk kemudian mengudeta lagi kudeta Kebo Ijo. Dengan cara itu, Arok tampil sebagai pahlawan, sebagai yang menumpas pemberontakan Gerakan Mpu Gandring dan dengan itu tidak segera dipandang Kediri sebagai musuh. ‘Kudeta merangkak,’ demikian istilah yang kemudian lahir sebagai kekhasan kudeta a la raja-raja Jawa. “…cara perang tanpa membuka gelar,” Kata Ken Dedes di tengah sesungguk tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *