Kolo, Nasi Bakar dalam Bumbung

91 Views
Kolo yang sudah matang [Kompas.com/Markus Makur]

Orang-orang Manggarai (3 kabupaten di belahan Barat Pulau Flores) punya sajian pangan tradisional yang disebut kolo.

Kolo adalah nasi yang dimasak dengan cara dipanggang dalam bumbung. Karena masaknya dengan cara dipanggang, kegiatan memasak kolo disebut tapa kolo. Tapa berarti bakar.

Tahu bumbung, kan? Wah. Generasi kini!

Bumbung adalah tabung bambu. Begitu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Banyak media massa, bahkan Kompas, dengan tidak hati-hati memberitakan nama makanan tradisional ini sebagai tapa kolo. Kesalahan ini seperti menyebut gulai sebagai rebus gulai. “Ayo makan rebus gulai.” Aneh, kan?

Tapa kolo mudah saja. Campurkan saja beras dengan santan kelapa. Masukkan ke dalam bumbung yang permukaan dalamnya sudah dilapisi daun pisang atau daun nyiur. Siapkan perapian di tungku – pakai kayu bakar, bukan kompor – lalu panggang bumbung – tentu yang sudah berisi beras dan santan – pada arang membara. Lalu tinggal tunggu matang.

Yang susah adalah memotong bambunya. Bukan perkara mudah memilih bambu dari kumpulannya; memotong 1-2 pokok; menarik keluar dari rimbunan kumpulan pokok bambu; membersihkan ruas-ruas bambu yang sudah rebah; dan membopong atau memikulnya ke kampung.

Sekarang ini tidak mudah berkesempatan menikmati kolo. Kita harus menunggu acara-acara besar. Kalau di kampung-kampung di Manggarai, kolo disajikan saat acara syukuran tahunan (penti). Di komunitas Manggarai perantauan, tapa kolo biasanya dilakukan dalam pesta syukuran pergantian tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *