Hewan-Hewan Penting dalam Adat Kematian Orang Manggarai

146 Views

Dalam masyarakat yang masih berpegah teguh pada tradisi warisan nenek moyang, segala sesuatu ada caranya, ada do and don’t. Apalagi jika itu menyangkut momen penting seperti kematian kerabat.

Sebuah kreba, ‘kabar’, duka tiba. Seorang berpangkat kakek meninggal. Sebagai orang muda Manggarai, saya tidak serta merta pergi melayat. Ada hal yang harus saya persiapkan dulu. Yang pertama adalah pengetahuan tentang tata cara.

Apa kewajiban saya secara adat? Apa yang harus saya bawa ke rumah duka untuk diserahkan di sana? Apakah saya yang menyerahkannya? Atau saya seharusnya berdiri di belakang keluarga yang lain, menyerahkannya secara kolektif? Dan banyak lagi pertanyaan serupa itu.

Orang Manggarai, penghuni tiga kabupaten di wilayah Barat Pulau Flores — tempat keberadaan Komodi dan Labuan Bajo (Manggarai Barat), Wae Rebo (Manggarai) dan Kopi Arabika Yellow Catura (Manggarai Timur) — memiliki sistem kekerabatan yang cukup rumit.

Sebenarnya tidak rumit-rumit amat, sebab demikian pula model relasi kekerabatan banyak suku di Nusantara. Yang rumit adalah tata cara hubungan antara simpul, posisi, dan status dalam kekerabatan itu.

Ada tiga unsur pembentuk sistem kekerabatan orang Manggarai: ase-kae, anak rona, dan anak wina.

Ase-kae atau adik-kakak terdiri atas dua tipe. Yang pertama adalah ase-kae golo, yang sesama warga kampung yang tidak memiliki pertalian darah dan tidak dalam status hubungan anak wina – anak rona dengan kita.

Yang kedua adalah saudara satu jenis kelamin. Jika dirimu lelaki, adik atau kakak lelakimu, juga anak lelaki adik-kakak lelaki ayahmu adalah ase-kae. Begitu pula jika dirimu perempuan. Saudarimu, putri saudari ibumu adalah ase-kae.

Saudara (lelaki) dari ibu Anda adalah anak rona. Demikian pula saudara (lelaki) dari nenek Anda, baik ibu dari ibu dan ibu dari ayah. Saudara (lelaki) dari istri Anda juga berstatus anak rona. Sama halnya suadara (lelaki) dari istri saudara (lelaki) Anda.

Anak wina adalah kebalikan anak rona. Dirimu adalah anak wina terhadap anak ronamu; dan anak rona di hadapan anak winamu.

Kita coba lebih detilkan. Jika dirimu lelaki, siapa saja anak-ronamu?

Pertama: pamanmu, saudara ibumu. Begitu pula anak lelaki pamanmu. Sementara putri pamanmu adalah istri pusakamu. Zaman dahulu kauberhak mengawininya. Perkawinan seperti itu disebut kawing tungku.

Pamanmu ini yang disebut anak rona ulu. Ulu berarti kepala. Ialah yang dianggap sumber kehidupanmu. Dirimu disebut bangkong-nya.

Saudari ibumu bukan adalah ibumu juga, kausebut ende tua/koe, mama tua/kecil, bude/lik. Jadi tidak kausebut tante, inang, bibi.

Tante, inang, bibi adalah sebutan untuk saudari ayahmu. Anak-anak tantemu adalah anak wina bagimu. Kau tak boleh menikahi putri tantemu. Tetapi putra tantemu boleh menikahi saudarimu.

Saudara ayahmu bukan pamanmu, tetapi ayahmu juga. Kausebut ema koe, ema tua, bapak kecil/besar, pak de/le. Nanti kalau putri pak de/le sudah menikah, suaminya dan seluruh keluarga suaminya berstatus anak wina bagimu. Dirimu adalah anak rona mereka.

Kedua: semua anak rona ayahmu dan semua anak rona ibumu adalah anak ronamu juga.

Ketiga, saudara istrimu adalah anak rona bagimu.

Bagaimana jika dirimu perempuan?

Pertama, pamanmu, paman ibumu, paman ayahmu adalah pihak anak rona. Jadi berlaku seperti jika dirimu lelaki.

Tetapi saudaramu adalah pihak anak rona, terutama setelah dirimu menikah. Jika kelak anakmu hendak kaunikahkan, saudaramu itulah orang yang harus diberitahu –setelah ayah-ibumu– dan kepadanya anakmu mint restu.

Kalau bingung, pakai saja rumusan ini: anak wina adalah pihak pemberi mempelai laki-laki. Ini rumusan yang unik sebab wina berarti istri. Tetapi itu tadi, anak wina justru sebutan bagi pihak pemberi mempelai lelaki.

Sementara anak rona –rona artinya suami– adalah pihak pemberi mempelai perempuan.

Orang Manggarai sangat menjaga keberlangsungan relasi anak wina – anak rona ini. Karena itu perkawinan antara anak – anak keluarga Manggarai diupayakan agar tidak merombak relasi yang ada.

Misalnya jika dua generasi di atas, keluarga A adalah anak rona — pemberi mempelai perempuan — kepada keluarga B, maka bertentangan dengan anak jika di sampai di generasi yang sekarang terjadi pernikahan antara lelaki keluarga A dengan perempuan keluarga B. Yang benar adalah sebaliknya, keluarga A konsisten menjadi ‘wife donor’, dan keluarga B selalu ‘wife recipient’.

Nah, mengetahui relasi anak wina – anak rona ini penting pula dalam hubungannya dengan penempatan diri terkait peristiwa duka seperti disinggung paragraf awal. Hewan apa yang harus dibawa berkatian dengan statusmu anak wina atau anak rona terhadap si almarhum.

Jika dirimu berstatus anak wina, maka kambinglah yang kaubawa ke sana. Sebaliknya, jika dirimu anak rona, yang kaubawa adalah babi. Jangan di balik.

Demikian pula dalam urusan makan. Anak rona makan daging kambing yang dibawa anak wina. Sebaliknya anak wina menyantap daging babi dari anak rona. Tidak boleh bertukar (cagur tau).

Urusan jenis hewan yang dibawa dan daging yang disantap mengandung pesan status dalam hubungan perkawinan, apakah dirimu pihak wife donor atau wife recipient.

Sampai di sini kita ketemu dua jenis hewan yang terlibat dalam peristiwa duka orang Manggarai: kambing dan babi.

Hewan lain adalah ayam, yang digunakan dalam acara adat teing hang. Baca artikel ” “.

Kerbau adalah hewan yang disembelih –sebenarnya bukan sembelih sebab harus dipancung atau ditebas lehernya– dalam acara yang disebut kelas atau paka di’a. Tetapi tidak semua orang menggunakan kerbau sebagai hewan kelas. Ada yang kuda, ada yang babi.

Kelas atau paka di’a adalah ritus final terkait kematian. Menjadi semacam acara perpisahan abadi dengan almarhum. Tetapi kita akan membahasnya lebih rinci kelak di kemudian hari.

Semoga berkenan. Tabe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *