Puisi Lama Manggarai, Tiada Dua di Nusantara

208 Views

Saat ceritakan “Rahasia Sawah Jaring Laba-laba di Manggarai, Flores”, saya singgung prinsip demokrasi politik orang Manggarai yang berslogan “neki weki manga ranga; weku wa’i rentu sa’i.” Jika dirimu peka, Kak, akan tampak kalimat itu bersajak. Rima, Irama, dan strukturnya unik. Tak satu pun jenis puisi lama Nusantara menyerupainya. Mungkin kini saatnya kita ubah seluruh pengetahuan kesusastraan tradisional Nusantara.

Ujar-ujaran Manggarai disebut go’et. Dari fungsinya, ia adalah pantun, sebab berfungsi sebagai penuntun, baik berupa sindiran atau nasihat tentang bagaimana berperilaku sebagai orang Manggarai.

Di masa lampau, orang Manggarai  bercakap-cakap dengan go’et dalam percakapan formal. Yang saya maksud percakapan formal adalah percakapan yang mengandung intensi, bukan sekedar ngobrol le-lau (ngalor-ngidul).

Pada masa kini, go’et masih digunakan di dalam percakapan dalam acara adat, juga pada percakapan formal antara tokoh-tokoh yang masih menjungjung tinggi adat.  

Go’et memiliki struktur yang sama sekali berbeda dengan beragam bentuk puisi lama yang pernah kita kenal. Larik, rima, irama, dan isi di dalam seluruh tubuh membuatnya berbeda dengan pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, mantra, atau apapun bentuk puisi lama Nusantara yang pernah Kakak pelajari di bangku sekolah.

Mari kita periksa. Saya ajukan lima contoh (dari ratusan koleksi go’et) untuk kita pelajari bersama

Pertama:

“Neka tengguk bail, jaga kepu tengu
Neka conga bail, jaga poka bokak”

Kata-kata utama (cetak tebal) sebagai unsur metaforis di dalam go’et ini adalah tengguk (tunduk), kepu (patah), tengu (tengkuk), conga (tengadah), poka (potong atau penggal), bokak (kerongkongan atau leher bagian depan). Kata-kata lain sebagai pelengkap, penghubung unsur metaforis adalah neka (jangan), bail (terlalu), dan jaga (awas).

Larik pertama terdiri dari 12 suku kata, serupa pula larik kedua. Persajakan kata-kata utama berupa rima asonansi ‘e-u’ (larik pertama) dan ‘o-a’ (larik kedua). Persajakan kata pelengkap adalah rima mutlak. 

Kalimat ini secara harfiah berarti jangan terlalu tunduk awas tengkuk patah, jangan terlalu tengadah awas leher terpenggal. Makna sebenarnya adalah pesan agar orang jangan terlalu merendah diri, juga jangan terlalu angkuh.

Kedua:

“Langkas haeng ntala, uwa haeng  wulang
wake calar ngger wa, saung bembang ngger eta”

Kata-kata utama unsur metafornya adalah langkas (tinggi), ntala(bintang), uwa (tua), wulang (bulan), wake calar (akar menjalar), wa(bawah), saung bembang (daun merimbun), eta (atas). Sementara kata-kata pelengkapnya adalah haeng (mencapai), ngger (ke).

Larik pertama dan kedua terdiri dari 12 suku kata. Persajakan larik pertama adalah asonasi ‘a’ dan ‘u-a.’ Larik kedua mengandung asonasi ‘a’ dan ‘e-a’. Kata pelengkapnya membentuk rima mutlak.

Harfiah go’et ini adalah tinggi menggapai bintang, tua menggapai bulan; akar merambat ke bawah, daun merimbun ke atas. Go’et ini adalah doa bagi seseorang, umumnya anak, agar bermasa depan sukses sejahtera, kokoh tetapi juga memberi perlindungan kepada saudara-saudaranya.

Ketiga:

“Darat  woleng  tana  manga rang;
poti woleng pong manga rojo”

Kata-kata utama adalah darat (peri), tana (tanah, tempat), rang (perbawa, kharisma), poti (setan), pong (hutan keramat), rojo (strategi). Sementara kata pelengkap adalah woleng (lain) dan manga (ada).

Larik pertama dan kedua terdiri dari 9 suku kata dengan asonansi ‘a’ pada unsur metaforis larik pertama, dan asonansi ‘o’ pada larik kedua. Sebagaimana selalu, kata-kata pelengkap membentuk rima mutlak.

Harfiahnya adalah lain peri lain tempat ada kuasanya, lain setan lain hutan ada strateginya. Makna dari go’et ini bisa serupa makna pantun melayu lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Atau bisa juga semakna dengan ujar-ujaran di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Atau bisa juga tentang keragaman dan kesadaran bahwa tiap-tiap orang memiliki kemampuan masing-masing, bakat yang berbeda-beda.

Keempat:

“Muku ca pu’u neka woleng curup,
teu ca ambo neka woleng lako”

Kata-kata utama berupa muku (pisang); pu’u (pokok/pohon); curup(omong, bicara), teu (tebu), ambo (rumpun), lako (jalan). Kata-kata pelengkap adalah ca (satu) dan neka woleng (jangan berbeda).

Tiap-tiap baris mengandung 11 suku kata dengan rima asonansi ‘u’ pada baris pertama dan ‘a-o’ pada baris kedua; serta rima mutlak dari kata-kata pelengkap.

Arti harfiah go’et ini adalah pisang sepokok jangan beda kata, tebu serumpun jangan beda jalan. 

Go’et ini adalah pesan tentang persatuan, baik bagi anggota keluarga, masyarakat sekampung, atau kesatuan masyarakat yang lebih luas. Keutamaan hidup dalam go’et ini sering diekspoitasi para politisi untuk mendapatkan dukungan bulat dari masyarakat konsituen.

Kelima:

“Tekur cai retuk,
lawo cai bao”

Kata-kata utama sebagai unsur metaforis adalah tekur (burung merpati), retuk (baru saja sekejab lalu), lawo (tikus), bao (baru saja tadi). Kata pelengkapnya cai (tiba).

Masing-masing larik terdiri dari 6 suku kata, dengan persajakan rima asonansi ‘e-u’ pada larik pertama dan ‘a-o’ pada larik kedua. Caisebagai kata pelengkap membentuk rima mutlak.

Harfiah go’et ini adalah burung merpati tiba baru saja, tikus tiba tadi saja. Maknanya adalah sindiran kepada amatiran, pahlawan kesiangan, anak ingusan, masih hijau, belum berpengalaman.

Dari contoh-contoh di atas, kita dapat disimpulkan aturan go’et sebagai berikut:

Pertama, go’et terdiri dari dua larik dengan jumlah suku kata tiap larik sama. Jumlah suku kata dalam go’et bervariasi, antara 6 hingga 12 suku kata.

Kedua, setiap larik adalah isi. Tak ada sampiran. Ini serupa syair dan berbeda dengan puisi-puisi lama Nusantara lain yang selalu mengandung sampiran pada separuh bagian pertama dan isi pada larik-larik sisanya. 

Ketiga, go’et selalu mengandung dua hingga empat benda dan asosiasi sifatnya sebagai unsur metafor. Unsur metaforis pada contoh-contoh di atas adalah kerongkongan-tengkuk (go’et 1), bintang-bulan, akar-daun (contoh 2), peri dan setan (go’et 3), pisang- tebu (contoh 4), dan merpati-tikus (go’et 5).

Keempat, persajakan go’et tidak mengenal rima akhir. Rima dalam go’et terdiri dari rima asonansi (rima vokal selarik) pada kata-kata yang menjadi unsur metaforis dan rima mutlak pada kata-kata pelengkap. Ini membuat go’et berbeda sama sekali dengan syair yang berstruktur rima akhir.

Kelima, isi dalam go’et tidak literer, tidak dinyatakan secara langsung dan eksplisit seperti aneka puisi lama melayu. Pesan sebagai isi go’etbersembunyi di balik metafora-metafora yang ada.

Nah, Kakak, dengan ciri-ciri go’et yang demikian, kira-kira adakah sastra lisan tradisional di daerah Kakak yang menyerupai go’et? Bukankah sungguh kaya Nusantara kita akan kesusastraan? Tidakkah seharusnya buku-buku sastra, terutama buku-buku mata pelajaran pengetahuan lokal di sekolah-sekolah mengajarkan soal ini? Adakah kakak-kakak terpelajar sastra ingin melengkapi ini?

Baiklah. Demikian saja. Jika ada yang kurang, maafkan saya, Kak. Saya bukan pembelajar sastra, juga bukan pengguna native bahasa Manggarai. Meski berayah-ibu Manggarai, saya lahir dan besar di Timor.

Untuk orang-orang seperti saya yang kurang paham budaya, ada pula go’et-nya. “Toe repeng pede, toe haeng tae.” Repeng itu pergok. Pede itu pesan. Haeng itu jangkau, dan tae itu kata-kata. Jadi artinya tidak memergoki pesan, tidak memahami perkataan. Maknanya kurang lebih serupa harfiahnya.

Sebagai penutup, nikmati dulu Om Donny Suhendra (gtr), Krisna Prameswara (kyb), Adi Darmawan (bs), Gilang Ramadhan (drm), dan Om Ivan Nestorman (voc) nyanyikan lagu Manggarai.

______

Kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *