Festival Pangan Lokal di Timor, Baru Pernah Saya Hadiri yang Semeriah Ini

142 Views

Baru pernah saya hadiri festival pangan lokal yang seperti ini. Tersaji menarik banyak ragam pangan. Cita rasa kuliner yang unik dan luar biasa. Saya sampai bingung ketika hendak pilih mau makan apa. Hingga malam hari saat harus kembali ke Kupang, saya masih saja tercengang. Betapa kaya negeri kita.

Jumat, 15/6/2018, sekitar pukul 17 WITA, festival pangan lokal dibuka dengan tarian perang. Absobano nama tariannya, berasal dari kata ab ‘tarian,’ so ‘giring-giring,’ dan bano ‘perang’. Para lelaki atoin meto–demikian orang Timor menamakan dirinya–menari dalam balutan busana tradisional mereka.

Parang tergenggam di tangan, kaki menghentak-hentak membunyikan giring-giring.  Ibu-ibu yang telah berdandan cantik dengan kalung manik-manik muti melingkari leher, menabuh gendang dan gong.

Tari perang adalah bentuk diplomasi. Dengan tari ini, atoin metomendeklarasikan kedaulatan atas wilayahnya kepada para tamu. “Kami gembira menyambutmu, menghormatimu, di tanah kami, tanah tumpah darah yang siap kami pertahankan dengan perang sekalipun,” kira-kira demikian tarian ini bermakna.

Tari Absobano sebagai pembuka festival [foto: Ike Nggili]

Selanjutnya, seperti halnya even di manapun, serangkaian kata sambutan diberikan. Ada Pak Camat Amfoang, Pak Kades Ohaem I, dan Kakak Andi dari Oxfam Indonesia.

Dalam sambutannya, Kak Andi menyampaikan dukungan Oxfam untuk isu kedaulatan pangan dan upaya regenerasi petani Indonesia. Itu sebabnnya Kak Andi membawa serta poster kontes duta petani muda Indonesia 2018, berharap ada orang muda  dari Desa Oh’aem yang didaftarkan dan masuk nominasi.

Hari telah mulai gelap ketika mata acara yang dinanti akhirnya tiba: mencicipi beragam sajian pangan lokal.

Ada 10 kelompok yang tampil dalam festival kali ini, 6 kelompok dari desa tuan rumah, 3 kelompok dari Desa Lelogama, dan 1 kelompok dari Desa Oh’aem II.

Kelompok-kelompok masak pangan lokal ini didorong pembentukannya oleh klub pangan lokal yang ada di masing-masing desa. Terima kasih kepada Perkumpulan Pikul Kupang yang dalam pendampingan selama 5 tahun telah menghasilkan kelompok kreatif seperti ini. Perubahan hanya bisa terjadi ketika masyarakat telah terlibat aktif sebagai subjek.

Tidak perlu menunggu dua kali dipersilakan, orang-orang sudah bergegas masuk ke dalam aula kantor desa tempat aneka pangan disajikan pada meja-meja yang mengelilingi ruangan, membentuk huruf U.

Anak-anak muda dan om-tante dari Kupang tampak paling antusias. Anak-anak muda ini berasal dari berbagai komunitas kreatif di Kota Kupang. Mereka datang dengan 10 mobil ke Desa Oh’aem I untuk menikmati kesempatan langka mencicipi pangan tempo dulu.

Sudah saya ceritakan sebelumnya (baca:”Lebaran Hari Ke-2 akan Tanpa Ketupat dan Opor Ayam‘), festival pangan lokal ini bertema  “Taha Tah Tababua Am Nahat Batan Ahunut” yang berarti ‘Masak dan Makan Bersama Makanan Tempo Dulu.’ Maka tentu saja sebagian besar sajian adalah pangan yang diolah a la sajian pangan masa lampau.

Memang aneka pangan ini jika beruntung bisa kita dapatkan kalau sering datang ke desa-desa yang masih mempertahankan pola konsumsi pangan lokal seperti Desa Oh’aem I. Tetapi menjumpai aneka jenis dalam satu kesempatan penyajian adalah kesempatan langka. Apalagi bisa makan sepuasnya tanpa harus malu dikatakan rakus. Tidak heran jika anak-anak muda Kota Kupang rela menempuh perjalanan empat jam melewati jalan buruk untuk bisa hadir dalam festival ini.

Beberapa komunitas kreatif yang menurut informasi hadir di sini adalah Komunitas fotografer Sekolah Musa (mereka juga gelar pameran foto bertema pangan lokal), Komunitas literasi Bagi Buku NTT, komunitas penggiat isu hak anak dan kespro Tenggara, komunitas pecinta lingkungan KOPHI.

Sementara komunitas seperti Kejar Palok dan Kupang Batanam terlibat aktif karena memang sudah passion mereka. Saya pernah cerita tentang festival pangan lokal di Kota Kupang yang diselenggarakan Komunitas Kupang Batanam di artikel “Festival Pangan, Kesadaran Orang Muda Kupang.”

Sudah Festival Yang ke-6

Menurut Om Zadrak Mengge, organiser komunitas dari Perkumpulan PIKUL, festival serupa ini sudah 6 kali diadakan di 3 desa di Kecamatan Amfoang.

Om Zadrak memang sudah 5 tahun mendampingi masyarakat di Amfoang untuk isu kedaulatan pangan dan penganekaragaman pangan. Kebetulan  5 tahun lalu saya melakukan baseline study untuk program ini, juga beberapa kali diminta membawa materi dalam workshop tentang kedaulatan pangan dan sekali tentang UU Desa dan Kebijakan Pangan di desa tetangga Oh’aem I, dua kali di Desa Oh’aem II dan sekali di Desa Lelogama.

Om Zadrak bercerita, festival pangan pertama diadakan di Desa Oh’aem II dan kedua diadakan di Desa Oh’aem I. Keduanya pada 2016, didukung pendanaannya oleh Perkumpulan Pikul dan Oxfam. Festival pangan ke-3 dan ke-4 dilakukan di Lelogama pada 2016 dan 2017. Yang mengadakan adalah Gereja Peniel I (2016) dan kerjasama Gereja Peniel I dan Gereja Peniel II (2017).

Festival pangan ke-5 diadakan oleh Pemdes Oh’aem I dengan memanfaatkan dana desa. Sementara yang ke-6 ini merupakan festival gabungan 3 desa: Oh’aem I (tuan rumah), Oh’aem II, dan Lelogama. Festival ke-6 ini didukung oleh Oxfam Indonesia dan Perkumpulan PIKUL.

Kemungkinan besar, menyimak kata sambutan Camat Amfoang, pada Agustus nanti, sebagai bentuk perayaan Kemerdekaan RI akan diadakan festival pangan tingkat kecamatan. Wow, saya sudah contreng agenda untuk kosongkan jadwal saat itu. 

Hidangan Beragam, Unik, dan Lezat

Hidangan pangan lokal yang disajikan 10 kelompok masak dari 3 desa ini sungguh luar biasa. Om-Tante bisa lihat sendiri pada video, saya sempat bingung mau mencicipi yang mana duluan.

Saya tidak bisa ceritakan semuanya. Karena itu, mungkin kali ini saya cerita saja aneka jenis pangan pokok sumber karbohidrat dan beberapa jenis sajian yang unik.

Orang Timor pada zaman dahulu, seperti orang NTT pada umumnya mengonsumsi pangan pokok berupa biji-bijian, kacang-kacangan, umbi, rimpang, dan buah. Berikut beberapa dari yang tersaji pada festival pangan lokal 2018 di Desa Oh’aem I ini. Saya gunakan foto-foto sumbangan fotografer cilik Ike Nggili

Berbagai bentuk olahan dan penyajian Jagung, beras, sorgum, dan kacang-kacangan

Beragam olahan kacang-kacangan

Biasanya Jagung, beras, kacang-kacangan, dan sorgum diolah dan disajikan sebagai campuran minimal dua jenis. Misalnya beras dan jagung, beras dan kacang merah, jagung dan kacang merah, sorgum dan kacang, dan lain-lain.

Hidangan berbahan Jagung yang paling terkenal adalah Jagung bose. Di dalamnya ada Jagung kupas kulit ari dan kacang merah kecil yang disebut kacang nasi. Jagung bose ini manis dan nikmat sekali.

Dalam artikel sebelumnya, “Masyarakat Pemakan Madu di Kaki Benteng Gunung Batu Kauniki,” saya sertakan video saat menikmati kacang hutan Kratok bersama madu. Uouh, enaknya. Coba Om-Tante lihat lagi video di artikel itu nanti. 

Kacang-kacangan dan sorgum

Umbi, Rimpang dan Buah

Umbi-umbian yang dijadikan pangan pokok adalah singkong, ubi jalar,dan beragam jenis uwi (Dioscorea). Rimpang yang dikonsumsi sebagai pangan pokok adalah keladi, talas, dan ganyong yang mereka sebut pisang tanah. Labu dan pisang adalah jenis buah yang dijadikan pangan pokok. Cara pengolahannya beragam. Yang paling saya sukai adalah keladi yang ada lapisan selai pisang di tengahnya.

Aneka umbi, rimpang, dan buah

Beragam Jenis Sambal, saos madu, sarang lebah, dan sambal anak lebah

Jika Om-Tante perhatikan, masing-masing jenis hidangan memiliki teman sambal yang khas. Jika saya perhatikan, ada 6 variasi sambal. Yang paling terkenal dan sering diulas di tv adalah sambal lu’at. Ada pula sambal jantung pisang, dan yang unik adalah sambal lebah, berbahan dasar larva lebah. Aduh, enak nian, Om-Tante.

Sarang lebah, madu, dan se’i babi

Selain sambal, pangan pokok seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan dinikmati dengan saos madu. Wuih. Coba Om-Tante lihat sekali lagi video saya nikmati kacang kratok dan saos madu di artikel “Masyarakat Pemakan Madu di Kaki Benteng Gunung Batu Kauniki.”

Favorit saya

Di antara beragam sajian pangan lokal itu, ada 4 favorit saya: kacang saos madu, sarang lebah, sambal larva lebah, dan tentu saja se’i babi. Sayang sekali, saya tidak sempat menikmati se’i babi selama festival. Tetapi tidak mengapa sebab warung se’i babi tersebar di setiap penjuru Kota Kupang.

Bagi Om-Tante yang belum tahu, se’i adalah daging asap, bukan panggang. Kayu yang dipakai untuk mengasapi daging se’i harus kayu kusambi. Ada dua daging yang lazim dijadikan se’i, yaitu se’i sapi dan yang paling nikmat adalah se’i babi.

Sumber: published sebelumnya di Kompasiana.com/tilariapadika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *