Dokter Tirta dan Deddy Corbuzier, Fenomena Internet Hero vs Troll

852 Views

Internet Hero, anti-troll yang sejatinya troll

Maraknya troll melahirkan kebutuhan akan anti-troll, hero yang mengimbangi keberadaan troll dengan konten-konten protagonis. Anti-troll pun menjadi peluang bisnis baru, kesempatan meraih bejibun subscriber padat engagement

“A anti-troll, someone who will Play trolls at there own game for the end goal of destroying the trolls attempt. A Internet hero will reply to trolls but never start the troll,” begitu mulanya internet hero disanjung-sanjung.[5]

Deddy Corbuzier dan dokter Tirta adalah contoh pesohor media sosial yang membaca peluang mengukuhkan popularitas dengan menjadi internet hero.

Popularitas berarti subscriber, follower, viewer. Itu bubuk vanila bagi kumbang pengiklan. Iklan-iklan dan view adalah duit.

Maka lewat kanal youtube dan podcast dan kanal youtube, Deddy Coruzier memproduksi konten-konten positif ‘verifikasi gosip’, suguhan ‘motivasi’ atau kritik terhadap perilaku tak beradab warganet — seperti intoleran dan mabuk agama||.

Begitu pula dokter Tirta. Meski kebablasan menggunaan kata-kata kasar, mulanya ia menuai simpati sebab memerangi stupidemic warga yang mengabaikan protokol pembatasan sosial. Apalagi dokter Tirta juga terjun sebagai relawan Covid-19.

Sayangnya, sejarah selalu berpesan, pahlawan yang abadi hanya yang mati di medan perang. Mereka yang hidup akan tiba saatnya menjdi pengkhianat.

Demikianlah Deddy Corbuzer akhirnya tergelincir ke posisi antagonis. Ia mengungah percakapan bodoh dengan raper Young Lex: prasangka konspiratif terhadap pandemi covid-19.

Warganet yang waras ramai-ramai mem-bully-nya.

Sementara dokter Tirta tidak bisa menjaga keselarasan umpatannya di media sosial dengan praktik dalam kehidupan luring. Ia tertangkap kamera berperilaku anti-jaga jarak saat mengunjungi keramaian restoran.

Ketika warganet mengkritiknya, Tirta mengancam akan menuntut hukum.

Tirta pun ramai-ramai dirundung netizen.

Di laman urbandictionary, definisi sarkastik internet hero meraih lebih banyak jempol.

“A sarcastic term for … a person who spends most of their time on Internet message boards acting like they are the all-knowing and all-mighty. If someone disagrees with their opinion the person labels the person with whom they disagree with a “sheep”, “sheeple” or called some sort of derogatory term.”

Nah demikianlah komodifikasi komunikasi di media sosial memperbesar kecenderungan negatif perilaku-perilaku troll — juga anti-troll yang ternyata sama saja.

Tak ada hero di media sosial.


-> Next: Catatan dan Sitasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *