Dokter Tirta dan Deddy Corbuzier, Fenomena Internet Hero vs Troll

854 Views

Kebisingan Menciptakan Troll

Caper, cari perhatian. Demikian sebutan yang sering dilekatkan kepada anak-anak yang menangis menjerit-jerit di tengah keramaian. Itu pula niat para pemuda memetik gitar dan menyanyi kencang-kencang di ujung gang.

Orang-orang butuh perhatian sebab tanpa perhatian dari sekelilingnya, tindakan komunikasi yang akan ia lakukan, pesan pernyataan dirinya, pancaran identitasnya membentur angin lalu segera lenyap.

Car paling mudah untuk menarik perhatian adalah bertingkah aneh, lain dari pada yang lain.

Ketika yang normal adalah sopan-santun dan saling respek, menghina kiri-kanan, lontarkan sumpah serapah di mana-mana, mencibir kepada siapapun merupakan keunikan yang efektif memaksa orang-orang menoleh.

Demikialah motif seseorang menjadi troll dalam percapakan media sosial yang riuh.

Troll, menurut para pembelajar komunikasi internet adalah

“A person who initially pretends to be a legitimate participant but later attempts to disrupt the community, as someone who “intentionally disrupts online communities”, or “takes pleasure in upsetting others”, or more broadly as a person engaging in “negatively marked online behavior” or that “makes trouble” for a discussion forums’ stakeholders.”[1]

Kata Mark Griffiths, Profesor Perilaku Adiktif di Universitas Nottingham Trem, keinginan balas dendam, mencari perhatian, mengusir kebosanan, atau sekadar untuk untuk hiburan merupakan sejumlah motif paling umum seseorang bertingkah sebagai troll dalam komunikasi di internet.[2]

Banyak ahli psikologi yang melihat perilaku troll dari kacamata kepribadian individu. Menurut mereka setiap orang pada dasarnya punya peluang menjadi troll. Karakter khas relasi di internet membuat orang mudah lepas kontrol dan membiarkan diri bertingkah menyimpang, toxic disinhibition.

Psikolog John Suler menyebut karakter internet yang mendukung toxic disinhibition, yaitu dissociative anonymity (bisa pakai identitas palsu), invisibility (tidak harus tatap muka saat berkomunikasi), solipsistic introjection (sesuka hati mau mengimajinasikan lawan komunikasi sebagai apa dan siapa), dissociative imagination (membayangkan relasi di internet sebagai hal yang lepas-pisah dari realita), dan minimization of status and authority (semua orang setara, murid dan kepala sekolah sama-sama cuma akun di media sosial).[3]

Sepertinya John Suler dan para psikolog yang sependapat dengannya gagal menangkap peran tema percakapan bagi terciptanya troll.

Di dunia nyata, kita tidak mengajak orang asing yang kebetulan duduk sebangku dalam bus mendiskusikan soal agama atau soal pilihan politiknya, atau pandangan ideologisnya terhadap sebuah wacana sensitif, misalnya soal legalisasi perkawinan sejenis.

Casual talk, small talk, basa-basi biasanya tentang hal-hal netral, ringan, dan retorik.

“Wuaduh, panas sekali ya, Mas?

“Iya, Mbak. Sudan tiga minggu nggak hujan

“Wuih, lama juga ya. Pantes. Sampai sumuk begini

“Iya. Tetapi sumuk-sumuk, mbak cantik kok”

Nah, bait keempat dicoret saja. Tak ada small talk yang seperti itu dalam kehidupan normal zaman dahulu. Baru sekarang, setelah para youtubers harus mencari viewers, percakapan casual menjadi aneh seperti bait keempat itu.

Perkembangan teknologi mengubah komunikasi jadi komoditi. Bukan cuma handphone, kartu seluler, dan paket data yang didagangkan. Ucapan yang terlontar, bahkan aksi monyongkan bibir pun sudah jadi komoditi.

Maka percakapan tidak lagi dilakukan cuma demi intensi kebutuhan identitas tetapi komoditas yang ditunggangi pesan sponsor atau kebutuhan menjaring engagement yang akan berbuah banyaknya tampilan iklan.

Orang-orang lantas berlomba-lomba menjadi social media influencer dan tekanan untuk merampok perhatian khalayak kian kencang saja.

Ketika politisi masa kini berubah status menjadi karir, politik pun berubah menjadi bisnis. Bukan gagasan yang diutamakan seorang politisi, melainkan seberapa ramai sebuah isu yang menguntungkan dirinya dan merugikan kompetitor diperbincangkan di media sosial.

Karena ramai menjadi ukuran, para perusahaan jasa konsultan politik melengkapi layanan dengan paket penciptaan isu dan pasukan buzzer. Meniru kesuksesan social media influencer di ranah bisnis umum, bisnis politik menciptakan akun-akun pendengung yang seolah-olah orang biasa, cuma warga yang resah akan kondisi bangsanya.

Gayung bersambut sebab para politisi melek bahwa media sosial adalah kerumunan murah. Membayar jasa perusahan pengerah buzzer jauh lebih murah dibandingkan repot–repot gelar panggung dangdut dan bagi-bagi nasi bungkus.

Agar percakapan tentang sebuah isu politik lebih cepat menyebar, butuh selubung sensasional. ‘Sri Mulyani Ratu Utang’ adalah jaket sensasi yang dikenakan Rizal Ramli untuk mempercepat isu tingginya utang luar negeri dikirimkan ke layar handphone jutaan pengguna media sosial di Indonesia.

Pemuja Sri Mulyani marah mendapatkan kicauan Rizal Ramli tiba di lini masa twitternya, diantar retweet akun kawan arisan. Si pemuja Sri Mulyani membalas kicauan itu, “Pecatan menteri bisanya cuma jadi #kadrun.”

Juragan panti pijat, cucu seorang pendatang dari gurun di Timur Tengah marah membaca tagar #kadrun tersemat dalam kicauan pelanggannya. Ia membalas dengan kata yang kalah kasar.

Maka terciptalah rantai percakapan negatif, rantai saling hina, rantai adu menyakiti lewat sosial media.

Clusters kebencian terbentuk di mana-mana, bersimpul, berpilin satu sama lain. Media sosial menjadi bentangan jalan parade akbar ujaran kebencian.

Maka lairlah rantai percakapan negatif, saling hujat dan hina. Soal utang luar negeri yang sejatinya jadi hakikat tak lagi digubris. Orang-orang yang berbalas-balasan membentuk bola salju kicauan Rizal tidak ada yang tahu mengapa Rizal Ramli mengkritik utang luar negeri; mengapa menurut Rizal ratio utang terhadap PDB 60% itu hanya cocok untuk negera-negara Eropa.

“It’s a spiral of negativity. … People who get down-voted come back more, comment more and comment even worse,” tutur pakar komunikasi dan psikologi, Jure Leskocev. [4]


-> Next page: Internet Hero, anti-troll yang sejatinya troll

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *