Divination, dan Tentang Memahami Dunia Lewat Film

265 Views

Saya takjub menyaksikan dalam film Exodus: God and King, orang Mesir di masa Masehi, melakukan pula ritus ‘membaca urat unggas’, praktik divination dalam ritus adat suku-suku di Nusa Tenggara Timur. Apa hubungannya orang Mesir di masa jauh sebelum Masehi dengan orang-orang Manggarai, Lahamolot, atau Mollo-TTS masa kini?

Saya punya kebiasaan unik dalam menonton film. Saya gemar menonton film yang bersumber pada kisah nyata, atau setidaknya punya setting sejarah nyata. Setelah menonton, saya biasa mencari tahu lebih detil tentang peristiwa sejarah tersebut.

Kalau peristiwa sejarah yang jadi settingnya sudah saya kenali, saya akan lebih menyimak sudut pandang sineas dalam menginterpretasi peristiwa itu. Saya akan gembira jika sineas mampu menampilkan sudut pandang tak lazim.

Seringpula saya dikagetkan oleh pengetahuan baru, hal yang tidak pernah saya sangka. Biasanya setelah menonton, saya akan menelurusi informasi lebih jauh, lewat buku atau laman di internet. Dengan demikian, bagi saya film berfungsi sebagai portal bagi pengetahuan baru.

Jadi mohon jangan kesal, jika membaca ulasan saya tentang film, Om-Tante akan lebih banyak menjumpai pembahasan tentang hal-hal di luar film tersebut, tidak fakta-fakta yang tidak nongol di layar.

Baru saja saya menonton film tentang pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan bangsa Mesir. Judulnya Exodus: God and King. Sengaja menontonnya karena umat Kristiani sedang dalam masa pekan suci yang akan berpuncak pada perayaan Paskah.

Anda tahu kan, perayaan Paskah umat Kristiani itu reinterpretasi atas Paskah orang Yahudi?

Orang Yahudi merayakan Paskah sebagai peringatan pembebasan dari perbudakan Mesir, terutama terkait peristiwa epidemi yang melanda orang Mesir, menyebabkan anak laki-laki bangsa Mesir meninggal.

Dalam kisah di Kitab Suci, anak laki-laki budak-budak Yahudi selamat karena mereka menandai rumah dengan torehan darah korban sembelihan kambing. Rumah-rumah yang bertanda demikian tidak terjangkiti wabah mengerikan itu.

Berbeda dengan umat Yahudi, tetapi memiliki simbol-simbol yang mirip, orang Kristiani merayakan Paskah untuk memperingati peristiwa kebangkitan Yesus Kristus. Yesus dijuluki sebagai anak domba Allah. Allah mengorbankan diri demi pembebasan manusia dari dosa.

Tetapi yang menarik perhatian saya dalam film Exodus: God and King bukanlah urusan Paskah, melainkan adegan upacara penyembelihan unggas persembahan. Ada adegan pendeta Mesir memeriksa hati unggas itu sebgai media meramal peristiwa yang akan datang.

Hal ini mengangetkan saya karena selama ini saya menyangka peramalan masa depan dengan membaca hati ayam hanya dilakukan orang-orang di Nusa Tenggara Timur. Kok bisa orang Mesir pada masa lampau juga melakukannya?

Orang Manggarai di Flores hingga kini masih mempraktikan tradisi meramal nasip baik atau buruk dengan melihat hati ayam yang disembelih untuk menghormati leluhur.

Rumah tangga – rumah tangga orang Manggarai mengadakan acara ‘teing hang’ setidaknya sekali dalam setahun. Ini ritus wajib setiap ada hajatan dalam sebuah rumah tangga.

Teing hang artinya memberi makan. Dalam acara ini rumah tangga menyembelih ayam. Ayam tersebut dipanggang begitu saja, sebab merupakan makanan kepada leluhur.

Ini merupakan peninggalan dinamisme, yang oleh Gereja Katolik tidak dilarang sebab telah diubah pemaknaan menjadi penghormatan atau kenangan terhadap leluhur.

Dalam kenyataan ada dua jenis sikap terhadap ritus ini. Yang pertama adalah golongan yang masih percaya bahwa leluhur ikut campur tangan dalam kehidupan mereka. Melupakan leluhur akan berdampak kesialan; sementara mengenang leluhur — salah satunya lewat ritus teing hang — akan berbuah kesuksesan.

Golongan kedua yang adalah mereka yang menjalankan ritus ini sekadar formalitas, sekadar menghormati atau menjaga identitas mereka sebagai orang Manggarai. Kiranya seperti sebagian dari kita masih meyakini bahwa menulis itu seharusnya menggunakan tangan kanan.

Jikapun melakukan pemaknaan, golongan kedua menjalankan ritus teing hang semata-mata demi menghormati kenangan akan leluhur, menghormatinya sebagai sumber keberadaan mereka saat ini, tetapi tidak dalam konteks meyakini campur tangan leluhur dalam sukses tidaknya kehidupan.

Nah, dalam acara teing hang, setelah ayam disembelih dan sebelum dipanggang, pemimpin ritus terlebih dahulu memeriksa kondisi organ dalam, terutama hati ayam. Dari kondisi hati ayam bisa diketahui apakah hajatan — pernikahan, ujian sekolah, wawancara pekerjaan, perjalanan jauh, berkontestasi dalam pilkades, bidding proyek pemerintah, dll — akan sukses atau gagal.

Jika kondisi urat baik pemimpin acara akan menunjukkan atau menyampaikan kepada yang hadir. Itu sebabnya acara ini disebut toto urat dia, ‘menunjukkan urat baik’. Dalam acara yang lebih resmi dan besar disebut naring urat dia, ‘memuji urat baik.’

Sepanjang mengikuti ritus toto urat di’a, belum pernah saya saksikan ada ayam yang disebut memiliki urat buruk. Selalu baik. Itu karena ritus ini telah berubah dari ramalan atau membaca pertanda menjadi ungkapan harapan agar semua baik dan lancar. Harapan harus selalu baik.

Di sisi lain Flores, di Timurnya, etnis Lamaholot — termasuk orang-orang di Pulau Adonara, Solor, Lembata (Lomblen) hingga Pantar di Pulau Alor– juga mempraktikkan hal ini.

Kampung etnis Lamaholot dipimpin oleh empat suku yang masing-masing bertugas spesifik. Tugas atau wewenang membunuh hewan kurban dan meramal masa depan berdasarkan organ dalam hewan kurban ada di tangan suku yang menduduki posisi Hurin.

Dahulu ritus yang dilakukan di level kampung biasanya berkaitan dengan rencana perang atau memulai musim tanam.

Sekitar 2006 — jika tak salah ingat — saya terlibat intens dalam advokasi lingkungan kars di Mollo, masyarakt adat di pegunungan Mutis, Timor Tengah Selatan, yang terancam rusak oleh eksploitasi penambangan marmer.

Setelah puluhan rakyat pengunjukrasa ditangkap, rakyat merencanakan aksi pendudukan kantor bupati, menuntut pembebasan warga dari penjara dan pencabutan izin tambang marmer.

Saya dibawa ke kampung asli orang-orang Fatumnasi, bersama para tetua adat duduk di dapur yang disebut ume bubu. Kami melingkari ‘pandita adat’ yang disebut ana tobe (atau natobe).

Serupa kebiasaan orang Manggarai, ada acara menyembelih ayam yang hatinya digunakan sebagai medium meramal kesuksesan aksi pendudukan kelak. Jika urat baik, aksi pendudukan akan sukses, warga yang ditahan akan segera bebas dan perusahaan tambang marmer hengkang dari Mutis.

Sekitar sejam setelah ritus itu, seorang lulbas — istilah bagi community organizer OAT, organisasi yang dipimpin Aleta Baun — mendapat sms. Diberitakan, kapal pengangkut marmer tenggelam dalam pelayaran menuju Surabaya.

Si na tobe menatap saya dan berkata — yang diterjemahkan orang di sampingnya — leluhur dan alam berpihak pada kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *