Bobo Pengantar Dongeng dan Daya Imaji Kompasianer Ikhwanul

276 Views

Ternyata Bobo Pengantar Dongeng buku itu. Sejak judul sudah menjungkirbalikan kelaziman frasa yang lekat pada ingatan masa kecil kita. Ini mungkin kekhasan canda kaum Majnun.

Saya mulai dengan “Air Kehidupan” dan berharap bisa berhenti setelahnya. Tetapi tanpa sadar saya sudah sampai cerpen ke-12 “Taman Patung di Tepi Jalan.” Rokok batang kedua yang dinyalakan telah mematikan diri sendiri sebab bosan menunggu sedotan bibir ini; sementara kopi mendingin oleh cemburu.

Saya mencoba kendalikan diri, berusaha untuk berhenti, mengingatkan diri bahwa masih ada anakan kurma yang belum dipindahkan ke polybag besar, juga esok hari masih butuh cerpen-cerpen yang lain, jika bisa untuk bacaan seminggu.

Tetapi jemari dan mata ini menolak perintah. Halaman demi halaman kembali dibuka. “Roh memang penurut, tetapi daging lemah,” saya batinkan mantera agar kuat. Tak mempan. Jiwa saya tertawan untuk terus membaca.

Mungkin tak sampai sejam, entahlah, saya lupa waktu, ketika “televisi, kulkas, dan mesin cuci” menghentikan saya di halaman 142. Cerpen-cerpen Penyair Majenun memang coklat Whittaker’s dan Bull Rush. Satu gigitan kaucoba, tak ada jalan pulang bagimu.

Anda boleh menuduh saya bombastis ketika menyetarakan daya imaji Penyair Majenun dengan Einstein. Bedanya Einstein mengerahkan imaji untuk membongkar rahasia semesta, sementara Penyair Majenun membatasi diri untuk menghibur pembaca dan diri sendiri tentu.

Butuh tingkat kesaktian imajinasi level tertentu untuk menemukan kemungkinan penolakan sang putri terhadap permintaan katak untuk menciumnya; atau membayangkan Cinderella sebagai juru tenung yang pendendam dan kejam.

Dengan imajinasinya, Penyair Majenun menjungkirbalikan semua kenangan membatu tentang dongeng dan hikayat terkenal, menjadikannya lebih menarik dan menyegarkan. Membacanya bukan saja hatimu girang  dan penuh takjub seperti kanak-kanak diizinkan bermain hujan, tetapi juga mengingatkanmu pada sisi filosofis lain dari  eksperimen teoritis kucing Schrodinger.

Satu peristiwa memiliki banyak kemungkinan untuk bagaimana berakhir. Kita menerimanya sebagai kenyataan singular saat postfactum. Ketika peristiwa itu sedang dalam rangkaian proses menjadi, ia memiliki banyak kemungkinan akan bergerak ke mana.

“Kehidupan ini tidak seperti matematika. Kita tidak bisa memastikan bagaimana sebuah pilihan berkonsekuensi, seperti apa perubahan pada variabel akan berdampak di kemudian hari. Karena itu yang terpenting adalah optimisme,” kata mantan guru Matematika SMP saya –yang kini pengajar di Universitas di pulau seberang– dalam percakapan di kedai kopi malam tadi.

Salah satu kekuatan cerpen-cerpen Penyair Majenun adalah gaya bahasanya yang ringkas mengalir. Dengan sendirinya –tanpa refleksi panjang– saya setarakan dengan kedewaan Putu Wijaya. Membaca daya imaji dalam cerpen-cerpen Penyair Majenun mengingatkan saya pada kondisi batin keterpukauan ketika berkenalan intens dengan cerpen-cerpen Sang Putu Wijaya di era akhir 90an.

Coba Anda ingat cerpen-cerpen Putu Wijaya, seperti tentang keluarga yang memperdebatkan cap apa pada kecap produksi mereka; tentang perempuan yang melulu mengoperasi hidungnya agar mendapat bentuk yang ideal dan akhirnya kembali ke bentuk asli tetapi sudah tak bisa lagi; atau tentang lelaki yang repot dengan trah-nya. Saya lupa judul-judulnya. Daya urai yang bening mengalir dan imaji dari cerpen-cerpen itu bisa kita temukan lawan tandingnya dalam karya-karya Penyair Majenun.

Mungkin yang membedakan Penyair Majenun dengan Sang Putu Wijaya adalah pada kewajiban menyisipkan pesan moral dalam kisahnya. Jika Putu Wijaya seperti memiliki kesadaran akan salib mewartakan moral dan kemanusiaan dalam karya-karyanya; penyair Majenun tampaknya merasa cukup sebagai terapis atas nalar kita yang kaku.

Tetapi bukan berarti tidak ada pesan moral penting dalam candaan canggih dan kreatif Penyair Majenun. Coba Anda baca cerpen “Versi Lain Kisah Putri dan Kodok.” Perhatikan dialog antara Ninon-Louna Compte, sang putri kaya raya dan cantik jelita dengan si kodok jelmaan Qaqil Qenthiri –diri lain bos Kemang dan Planet Kentir itu  — yang dikutuk Gina Ratu Jebel Uweinat al-Tomangi.

“Sebagai istri, Kamu akan menjadi ibu dari dua belas anak kita. Setiap hari Kamu akan menyiapkan makan, mencuci dan menyeterika pakaian, memijit kakiku jika aku lelah, mengantar anak-anak ke sekolah, membersihkan rumah, dan lain-lain yang biasa dilakukan seorang istri.”

“Aku harus menciummu untuk mendapatkan semua itu?”

Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Louna mencium kodok Qaqil? Tidak. Louna menjadikannya santapan yang nikmat.

Bukankah ini pesan yang mengingatkan kita betapa kaum perempuan sering kali mengorbankan kemerdekaan mereka, cita-cita mereka, cinta dari orang tua mereka hanya untuk terpenjara dalam rutinitas dapur-kasur-sumur? Maka betapa kejamnya mereka yang menambah penderitaan para istri dengan menduakan cinta, apalagi men-tigakan-nya.

Ada banyak juga sindiran-sindiran ringan terhadap perilaku kita, seperti betapa mudahnya berganti gawai (“Mencari Pengganti Skippy”) atau tentang keranjingan junk food yang berganjar penyakit jantung (“Musro dan Kopral Zonder”).

Sisi menarik lain dari cerpen-cerpen Penyair Majenun adalah pada selera humor yang dibangunnya dengan gaya slenge’an, menampilkan jukstaposisi seenaknya dari entitas lokal dengan kosmopolit dan yang  menyejarah dengan yang masa kini. Contohnya ketika Nuey ( “Bocah Angon yang Berteriak Musang”) dihukum membersihkan masjid desa, menyikat wc umum terminal (sangat lokal) hingga mengecat tembok China (kosmopolit) atau burung robot bulbulbot versi 2.0 (“Nyanyian Bulbul”) berisi koleksi lagu-lagu berformat mp3 (mutahir) yang dihadiahkan Jepang kepada Kaisar China (masa lampau).

Well, selain riang gembira, menuntaskan membaca Bobo Pengantar Dongeng menerbitkan kesadaran akan ketidakadilan literasi. Saya menuduh para penerbit major label dan raksasa jaringan distribusinya telah bertindak tidak adil terhadap Penyair Majenun, cerpen-cerpennya, dan tentu saja saya dan Anda sebagai pembaca.

Bagaimana bisa mereka enggan mengerling pada karya sebagus ini? Bagaimana bisa Penyair Majenun harus mengedit sendiri, mengatur tata letak sendiri, hingga memasarkan sendiri. Untunglah kita sudah mengenal Penyair Majenun dari cerpen-cerpennya di Kompasiana. Jika tidak ia harus menjadi penulis yang membaca sendiri pula karya-karyanya, dan kita kehilangan kesempatan menyegarkan nalar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *