Bobo Pengantar Dongeng dan Daya Imaji Kompasianer Ikhwanul

275 Views

Jika Dikau hendak mengaku-ngaku berimajinasi tinggi atau mengerti daya imaji, sebaiknya tahan dulu kepongahan itu. Pergilah ke toko buku, beli buku-buku Ikhwanul Halim dan bacalah. Setelah itu Dikau akan lebih bersahaja sebab telah Kaulihat sendiri bagaimana rupa sejati imajinasi itu.

Semalam tidur saya lumayan nyenyak. Maklum, kemarin berkegiatan cukup padat. Siang di kebun menerima kunjungan wawancara redaktur sebuah harian terkemuka di kota ini; kemudian iseng mencangkul untuk membuat beberapa bidang bedeng di kebun pepaya

Ketika pulang, masih juga memindahkan sejumlah anakan kurma (yang riang menyembulkan satu helai sulungnya menembus permukaan tanah dalam gelas bekas air kemasan) ke polybag yang lebih besar hingga hari mulai gelap.

Malamnya saya berbincang-bincang hingga larut malam dengan mantan guru matematika SMP saya di kedai kopi. Kebetulan ia sedang berada di kota ini untuk beberapa urusan yang ternyata perlu menyeret bantuan saya.

Sepulang itu saya masih sempatkan mengetikkan beberapa larik jahil tentang Puting Beliung yang merusak sebagian sisi kota dan politisi yang memusuhi rakyat kreatif.

Aktivitas kemarin perlu saya ceritakan sebagai pembelaan diri atas bangun kesiangan hari ini dan tak sempat menjumpai tukang pos yang mengantar buku-buku Om Ikhwanul. Ketika bangun, paket berisi buku-buku Om Ikhwanul sudah duduk di atas meja, di samping termos kopi 2 liter sebagai bekal berkebun.

Buku Kumpulan Cerpen Flash Fiction Bobo Pengantar Dongeng

Baiklah, kita panggil saja Om Ikhwanul sebagai Penyair Majenun, nama yang dipilihnya sendiri untuk dirinya sendiri.

Hehehe, saya jadi ingat Taserface, anak buah Yondu Udonta yang coba-coba mengkudeta kepemimpinan Yondu  dalam Guardian of Galaxy II itu. Taserface adalah nama yang ia pilih sendiri karena menurutnya keren. Alih-alih memuji, Rocket yang pada dasarnya memang sinis itu justru terpingkal-pingkal menertawakannya.

Saya bukan Rocket dan Om Ikhwanul bukan Taserface. Karena itu saya tidak akan menertawakan nama Penyair Majenun. Apalagi saya juga menganggap Tilaria Padika, nama yang saya utak-atik sendiri itu keren.

Saya segera mencabik-cabik kemasan paket, memilih serampangan satu buku, menyambar kopi dan bungkus rokok, dan mulai membaca. Niatnya satu cerita saja, agar bersama rokok dan kopi membantu menyiagakan jiwa dan tubuh menyambut hari yang akan melelahkan.

Ya, satu cerita saja. Sebab saya yakin –dan karena itu tidak menimbang lama untuk memesannya— cerpen-cerpen Om Ikhwanul setara keping-keping Bull Rush Chocolate dari Mid Canterbury atau pesaingnya Whittaker’s dari Porirua. Mereka terlalu berharga untuk habis sekali lahap lalu sesal menyergap esok harimu yang manyun.

Berbeda dengan cerpen-cerpennya, saya belum merasa connected dengan puisi-puisi Penyair Majenun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *