Buku Kumpulan Cerpen “Bobo Pengantar Dongeng” dan Daya Imaji Kompasianer Ikhwanul

219 Views

Jika Dikau hendak mengaku-ngaku berimajinasi tinggi atau mengerti daya imaji, sebaiknya tahan dulu kepongahan itu. Pergilah ke toko buku, beli buku-buku Om Ikhwanul Halim dan bacalah. Setelah itu Dikau akan lebih bersahaja sebab telah Kaulihat sendiri bagaimana rupa sejati imajinasi itu.

Semalam tidur saya lumayan nyenyak. Maklum, kemarin berkegiatan cukup padat. Siang di kebun menerima kunjungan wawancara redaktur sebuah harian terkemuka di kota ini; kemudian iseng mencangkul untuk membuat beberapa bidang bedeng di kebun pepaya. Ketika pulang, masih juga memindahkan sejumlah anakan kurma (yang riang menyembulkan satu helai sulungnya menembus permukaan tanah dalam gelas bekas air kemasan) ke polybag yang lebih besar hingga hari mulai gelap.

Malamnya saya berbincang-bincang hingga larut malam dengan mantan guru matematika SMP saya di kedai kopi. Kebetulan ia sedang berada di kota ini untuk beberapa urusan yang ternyata perlu menyeret bantuan saya. Sepulang itu saya masih sempatkan mengetikkan beberapa larik jahil tentang Puting Beliung yang merusak sisi kota dan politisi yang memusuhi rakyat kreatif.

Aktivitas kemarin perlu saya ceritakan sebagai pembelaan diri atas bangun kesiangan hari ini dan tak sempat menjumpai tukang pos yang mengantar buku-buku Om Ikhwanul. Ketika bangun, paket berisi buku-buku Om Ikhwanul sudah duduk di atas meja, di samping termos kopi 2 liter sebagai bekal berkebun.

Baiklah, kita panggil saja Om Ikhwanul sebagai Penyair Majenun, nama yang dipilihnya sendiri untuk dirinya sendiri. Hehehe, saya jadi ingat Taserface, anak buah Yondu Udonta yang coba-coba mengkudeta kepemimpinan Yondu  dalam Guardian of Galaxy II itu. Taserface adalah nama yang ia pilih sendiri karena menurutnya keren. Alih-alih memuji, Rocket yang pada dasarnya memang sinis itu justru terpingkal-pingkal menertawakannya.

Saya bukan Rocket dan Om Ikhwanul bukan Taserface. Karena itu saya tidak akan menertawakan nama Penyair Majenun. Apalagi saya juga menganggap Tilaria Padika, nama yang saya utak-atik sendiri itu keren.

Saya segera mencabik-cabik kemasan paket, memilih serampangan satu buku, menyambar kopi dan bungkus rokok, dan mulai membaca. Niatnya satu cerita saja, agar bersama rokok dan kopi membantu menyiagakan jiwa dan tubuh menyambut hari yang akan melelahkan.

Ya, satu cerita saja. Sebab saya yakin –dan karena itu tidak menimbang lama untuk memesannya— cerpen-cerpen Om Ikhwanul setara keping-keping Bull Rush Chocolate dari Mid Canterbury atau pesaingnya Whittaker’s dari Porirua. Mereka terlalu berharga untuk habis sekali lahap lalu sesal menyergap esok harimu yang manyun. Berbeda dengan cerpen-cerpennya, saya belum merasa connected dengan puisi-puisi Penyair Majenun.

Ternyata Bobo Pengantar Dongeng buku itu. Sejak judul sudah menjungkirbalikan kelaziman frasa yang lekat pada ingatan masa kecil kita. Ini mungkin kekhasan canda kaum Majnun.

Saya mulai dengan “Air Kehidupan” dan berharap bisa berhenti setelahnya. Tetapi tanpa sadar saya sudah sampai cerpen ke-12 “Taman Patung di Tepi Jalan.” Rokok batang kedua yang dinyalakan telah mematikan diri sendiri sebab bosan menunggu sedotan bibir ini; sementara kopi mendingin oleh cemburu.

Saya mencoba kendalikan diri, berusaha untuk berhenti, mengingatkan diri bahwa masih ada anakan kurma yang belum dipindahkan ke polybag besar, juga esok hari masih butuh cerpen-cerpen yang lain, jika bisa untuk bacaan seminggu.

Tetapi jemari dan mata ini menolak perintah. Halaman demi halaman kembali dibuka. “Roh memang penurut, tetapi daging lemah,” saya batinkan mantera agar kuat. Tak mempan. Jiwa saya tertawan untuk terus membaca.

Mungkin tak sampai sejam, entahlah, saya lupa waktu, ketika “televisi, kulkas, dan mesin cuci” menghentikan saya di halaman 142. Cerpen-cerpen Penyair Majenun memang coklat Whittaker’s dan Bull Rush. Satu gigitan kaucoba, tak ada jalan pulang bagimu.

Anda boleh menuduh saya bombastis ketika menyetarakan daya imaji Penyair Majenun dengan Einstein. Bedanya Einstein mengerahkan imaji untuk membongkar rahasia semesta, sementara Penyair Majenun membatasi diri untuk menghibur pembaca dan diri sendiri tentu. Butuh tingkat kesaktian imajinasi level tertentu untuk menemukan kemungkinan penolakan sang putri terhadap permintaan katak untuk menciumnya; atau membayangkan Cinderella sebagai juru tenung yang pendendam dan kejam.

Dengan imajinasinya, Penyair Majenun menjungkirbalikan semua kenangan membatu tentang dongeng dan hikayat terkenal, menjadikannya lebih menarik dan menyegarkan. Membacanya bukan saja hatimu girang  dan penuh takjub seperti kanak-kanak diizinkan bermain hujan, tetapi juga mengingatkanmu pada sisi filosofis lain dari  eksperimen teoritis kucing Schrodinger.

Satu peristiwa memiliki banyak kemungkinan untuk bagaimana berakhir. Kita menerimanya sebagai kenyataan singular saat postfactum. Ketika peristiwa itu sedang dalam rangkaian proses menjadi, ia memiliki banyak kemungkinan akan bergerak ke mana.

“Kehidupan ini tidak seperti matematika. Kita tidak bisa memastikan bagaimana sebuah pilihan berkonsekuensi, seperti apa perubahan pada variabel akan berdampak di kemudian hari. Karena itu yang terpenting adalah optimisme,” kata mantan guru Matematika SMP saya –yang kini pengajar di Universitas di pulau seberang– dalam percakapan di kedai kopi malam tadi.

Salah satu kekuatan cerpen-cerpen Penyair Majenun adalah gaya bahasanya yang ringkas mengalir. Dengan sendirinya –tanpa refleksi panjang– saya setarakan dengan kedewaan Putu Wijaya. Membaca daya imaji dalam cerpen-cerpen Penyair Majenun mengingatkan saya pada kondisi batin keterpukauan ketika berkenalan intens dengan cerpen-cerpen Sang Putu Wijaya di era akhir 90an.

Coba Anda ingat cerpen-cerpen Putu Wijaya, seperti tentang keluarga yang memperdebatkan cap apa pada kecap produksi mereka; tentang perempuan yang melulu mengoperasi hidungnya agar mendapat bentuk yang ideal dan akhirnya kembali ke bentuk asli tetapi sudah tak bisa lagi; atau tentang lelaki yang repot dengan trah-nya. Saya lupa judul-judulnya. Daya urai yang bening mengalir dan imaji dari cerpen-cerpen itu bisa kita temukan lawan tandingnya dalam karya-karya Penyair Majenun.

Mungkin yang membedakan Penyair Majenun dengan Sang Putu Wijaya adalah pada kewajiban menyisipkan pesan moral dalam kisahnya. Jika Putu Wijaya seperti memiliki kesadaran akan salib mewartakan moral dan kemanusiaan dalam karya-karyanya; penyair Majenun tampaknya merasa cukup sebagai terapis atas nalar kita yang kaku.

Tetapi bukan berarti tidak ada pesan moral penting dalam candaan canggih dan kreatif Penyair Majenun. Coba Anda baca cerpen “Versi Lain Kisah Putri dan Kodok.” Perhatikan dialog antara Ninon-Louna Compte, sang putri kaya raya dan cantik jelita dengan si kodok jelmaan Qaqil Qenthiri –diri lain bos Kemang dan Planet Kentir itu  — yang dikutuk Gina Ratu Jebel Uweinat al-Tomangi.

“Sebagai istri, Kamu akan menjadi ibu dari dua belas anak kita. Setiap hari Kamu akan menyiapkan makan, mencuci dan menyeterika pakaian, memijit kakiku jika aku lelah, mengantar anak-anak ke sekolah, membersihkan rumah, dan lain-lain yang biasa dilakukan seorang istri.”

“Aku harus menciummu untuk mendapatkan semua itu?”

Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Louna mencium kodok Qaqil? Tidak. Louna menjadikannya santapan yang nikmat.

Bukankah ini pesan yang mengingatkan kita betapa kaum perempuan sering kali mengorbankan kemerdekaan mereka, cita-cita mereka, cinta dari orang tua mereka hanya untuk terpenjara dalam rutinitas dapur-kasur-sumur? Maka betapa kejamnya mereka yang menambah penderitaan para istri dengan menduakan cinta, apalagi men-tigakan-nya.

Ada banyak juga sindiran-sindiran ringan terhadap perilaku kita, seperti betapa mudahnya berganti gawai (“Mencari Pengganti Skippy”) atau tentang keranjingan junk food yang berganjar penyakit jantung (“Musro dan Kopral Zonder”).

Sisi menarik lain dari cerpen-cerpen Penyair Majenun adalah pada selera humor yang dibangunnya dengan gaya slenge’an, menampilkan jukstaposisi seenaknya dari entitas lokal dengan kosmopolit dan yang  menyejarah dengan yang masa kini. Contohnya ketika Nuey ( “Bocah Angon yang Berteriak Musang”) dihukum membersihkan masjid desa, menyikat wc umum terminal (sangat lokal) hingga mengecat tembok China (kosmopolit) atau burung robot bulbulbot versi 2.0 (“Nyanyian Bulbul”) berisi koleksi lagu-lagu berformat mp3 (mutahir) yang dihadiahkan Jepang kepada Kaisar China (masa lampau).

Well, selain riang gembira, menuntaskan membaca Bobo Pengantar Dongeng menerbitkan kesadaran akan ketidakadilan literasi. Saya menuduh para penerbit major label dan raksasa jaringan distribusinya telah bertindak tidak adil terhadap Penyair Majenun, cerpen-cerpennya, dan tentu saja saya dan Anda sebagai pembaca.

Bagaimana bisa mereka enggan mengerling pada karya sebagus ini? Bagaimana bisa Penyair Majenun harus mengedit sendiri, mengatur tata letak sendiri, hingga memasarkan sendiri. Untunglah kita sudah mengenal Penyair Majenun dari cerpen-cerpennya di Kompasiana. Jika tidak ia harus menjadi penulis yang membaca sendiri pula karya-karyanya, dan kita kehilangan kesempatan menyegarkan nalar.***

_____

also published at Kompasiana.com/tilariapadika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *