4 Kali Remake, Apa Istimewanya The Call of the Wild?

132 Views

Beberapa hari lagi “The Call of the Wild” akan tayang di jaringan bioskop di Indonesia. Di situs milik Cinepolis, terpatri tanggal 21 Februari. Meski tidak ada keterangan tanggal di situs Sinemaplex, kita boleh menduga tanggal tayangnya juga 21 Februari, seperti saingannya.

“The Call of the Wild” adalah film bergenre petualangan yang diperuntukkan semua usia. Boleh dibilang, karakter utamanya adalah Buck, seekor anjing jenis St. Bernard–dalam versi 2020 ini merupakan CGI–dan John Thornton, petualang yang jadi sahabat baru Buck.

The Call of the Wild

Buck yang mula-mula anjing rumahan tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang keras ketika ia diculik dan dibawa ke belantara Yukon di Alaska yang diselalu diselimuti salju. Buck menjadi anjing penarik kereta salju bagi para pekerja tambang emas di sana.

Di Yukon, Buck terlibat persahabatan tulus antar-spesies dengan John Thornton (diperankan Harrison Ford),  seorang yang sejatinya pergi ke Yukon lebih karena kepentingan mencari ketenangan dibandingkan menambang emas.  Buck dan John saling membantu dan melindungi dalam petualangan mereka di tengah kerasnya alam. Di ujung, keduanya keluar sebagai individu-individu yang menemukan jati diri sejati.

Film ini adalah adaptasi novel klasik berjudul serupa, ditulis Jack London dan terbit perdana pada 1903. Sudah sangat tua. Yang menarik, ini bukan adaptasi film pertama novel itu. Adaptasi film pertama novel ini adalah pada 1923 di era film bisu. Ketika teknologi perfilman sudah bisa menyatukan gambar dan suara, ” The Call of the Wild” diadaptasi tiga kali,  yaitu pada 1935, 1972, dan 1997. Dalam ketiga edisi itu, John Thronton diperankan oleh  Clark Gable, Charlton Heston dan Rutger Hauer.

Sependek pengetahuan saya, tidak banyak novel yang pernah diadaptasi sebanyak ini ke dalam film layar lebar. Hanya ada beberapa lainnya, seperti  “Les Miserables” (1862, Viktor Hugo); “The Junggle Book” (1894, Joseph Rudyard Kipling) , “Dracula” (1897, Bram Stoker),  “The Wonderful Wizard of Oz” (1900, L. Frank Baum) atau juga naskah drama seperti Hamllet, Macbeth, dan Romeo and Juliet.

Tentu saja hal ini bikin penasaran. Apa yang membuat “The Call of the Wild” sedemikian istimewa hingga ia bisa menyetarai sejumlah karya besar lain dalam jumlah adaptasi ke dalam film?

Apakah sesederhana alasan karena ia menghadirkan hewan peliharaan imut yang dicintai begitu banyak orang?

Saya kira tidak sesederhana itu.

Mungkin lebih pas menduga alasannya adalah karena ” The Call of the Wild” menghadirkan kisah tentang cinta yang tulus, yang bukan cuma lintas-kultur, lintas-agama, lintas-ras, tetapi lintas-spesies.

Terry Notary yang memerankan Buck–CGI butuh pemeran manusia sebagai model gerak–mengatakan alasan kegembiraannya menerima peran itu. Menurutnya anjing adalah hewan yang selama ribuan tahun sangat connected dengan manusia, teman terbaik manusia. Tatapan mereka jujur menembus jiwa kita, tanpa rasa takut.

Samar-samar saya ingat, apakah Ayu Utami dalam Saman atau Dewi Lestari dalam Supernova yang pernah memuja anjing serupa itu? Saya setuju 100 persen.

Mungkin pula ” The Call of the Wild” terletak pada kemampuannya memfasilitasi kita merefleksi diri, menemukan kesamaan karakter, hasrat, impian kita dalam diri Buck dan John Thronton. Darinya kita berkaca, menemukan diri kita, atau menemukan bayangan diri yang kita impikan, yang kita kejar dan belum mampu wujudkan.

“Saya pikir film ini punya banyak hal untuk dikatakan mengenai sifat-sifat manusia dan hewan,” kata Harrisond Ford.

Terlepas dari kontennya yang inspiratif, “The Call of the Wild” bisa menjadi sebuah mahakarya karena dedikasi Jack London dalam berkarya. 

Menjadi penulis sejak sangat belia, pada usia 21 tahun Jack dalam kondisi sangat miskin sebab belum satupun karyanya yang diterima penerbit. Ia lantas memilih mengikuti rombongan penambang ke Klondike, Yukon. Di sana, tidak cuma bekerja menambang emas–hanya menghasilkan sedikit sekali–ia melakukan observasi bahan-bahan “The Call of the Wild.”

“Di Klondike-lah aku menemukan diriku,” kata Jack.

Perjalanan kepengarangan London juga inspiratif. Dalam lima tahun pertama menjadi penulis, Jack London berkali-kali mengalami penolakan dari penerbit. Ada 664 surat penolakan karyanya yang ia kumpulkan. Padahal bukan main-main usaha Jack. Dalam sehari ia bisa menulis selama 15 jam, lupa makan dan kurang tidur.

Rupanya dalam diri Jack mengalir keteguhan Buck. Oleh semangat pantang mundurnya menghadapi kerasnya alam (lingkungan pekerjaan), London akhirnya keluar sebagai pemenang. Ia menjadi pengarang dengan penghasilan terbesar di Amerika Serikat saat itu; menulis 50 judul buku laris; hingga akhirnya meninggal pada usia 40 tahun, seperti usia abadi Asraf Sinclair, kekasih Bunga Citra Lestari.

Luar biasa, Jack. Saya belum belum menulis satu bab pun novel tetapi sudah merasa tidak mungkin diterima penerbit dan khalayak. Saya butuh spirit Buck.

Bahan bacaan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *